Sisi Baik Dari Segala Sesuatu
Malam itu udara dingin.
Banyak mata bercahaya dibalik rerimbunan.
Berkelebat dan berputar.
Hanya ada aku dan hewan itu.
Hening…
Kala menyepi di ujung ruangan kosong.
Yang kudapati hanyalah sekarung kenangan.
Dan setumpuk album yang warnanya telah kabur.
Berdebu dalam detak-detak yang penuh bimbang.
Di sana ada mawar layu yang durinya bukan duri lagi.
Tak terasa sakit tapi masih menyisakan luka.
Dulu luka itu ada dan menganga, sekarang perih mendidih.
Saat tiada yang dipegang, tiada yang dijadikan tumpuan.
Lemah saja gontai di ujung jalanan.
Berteman suara jangkrik dan binatang malam.
Kutanya pada bayangan kelelawar yang melesat.
Jawabnya serta merta mengecilkan hati.
Saat semua terbang kau sendiri melata.
Ejeknya lagi bercampur sindiran kekanak-kanakkan.
Saat dulu kau senang tak ingat siapa pun.
Saat kau sedih seekor kalong kau tanyai.
Katanya lagi.
Gila memang hidup di jalan hambar.
Terbang berputar-putar.
Banyak bunga-bunga mekar tanpa ternikmati.
Layu saja di padang gersang berteman kaktus hijau.
Dedaunan pun enggan menyapa pada sehelai kulit lusuh.
Dan wajah sendu yang selalu ditampakkan.
Bagaimana mungkin dapatkan cerahnya sinar rembulan.
Di ruangan gelap menanti cahaya, mana mungkin.
Tinggallah di sana jika memang hendak terasing.
Jika hendak berbagi maka jangan terlalu dipikir.
Isi kekuatan dengan sepiring semangat pada hari.
Keluar menuju cahaya, kepalkan tangan.
Akan kau lihat dedaunan kuning menyapa pagi.
Dan kau sadari bahwa semesta melihat jalanmu.
Meski aku tak dapat melihat pagi.
Yakinlah Tuhan terus melihatmu.
Kadang hidup ini bagai tak sebuah
perjalanan tak bertepi, mirip seperti seorang pekerja yang tak kenal lagi
antara pagi, siang dan malam. Baginya hidup adalah berdiri diantara mesin-mesin
di tengah ruangan yang penuh dengan lampu. Waktu pagi baginya adalah malam, dan
malam disangkanya sudah pagi kembali. Kadang hidup seperti itu, seakan dunia
berputar tiada henti dan kehidupan melulu seperti itu-itu saja sampai suatu
ketika orang-orang di dekat kita sudah tak lagi ada, barulah kita paham bahwa
hidup itu bukanlah sekadar mencari kesibukan tanpa tahu bahwa kita sebenarnya
hanya dipermainkan oleh waktu.
Ya, rasa-rasanya ketika jalan
yang kita lalui mulai menanjak dan berat sehingga otak kita tak mampu lagi berpikir,
maka keluh kesah sering terucap dari bibir. Curhatan demi curhatan digubah demi
mengeluarkan apa yang ada dalam dada. Meski lawan bicara tak lagi mau perduli,
kita tetap saja berpanjang-panjang cakap, meneliti beratnya hidup yang kita
alami. Padahal sebelumnya kita selalu bersemangat menjalani kehidupan.
Seorang bijak bestari
mengingatkan kita dengan sebuah kalimat “Please! Look at the sunny side of
everything” Lihat lah sisi yang terang dari segala sesuatu, lihatlah sisi
baiknya, teruslah berpikiran positif serta hilangkan aura negative dari dirimu
dengan terus termotivasi untuk berpacu mencari jalan yang lebih baik. Maka
dengan itu, dunia tak akan terlalu membuat menderita, perjalanan hidup pun
serasa ada ujungnya. Maka ketika kita melihat ujung perjalanan kita, maka hidup
akan terasa memuaskan sebab ada sesuatu yang kita tuju, ada titik terang yang
kita ingin ungkap, bahkan ada sesuatu yang pasti dalam hidup kita yang menjadi
tujuan akhir dari segala perbuatan kita.
Dengan itu kita tak akan lagi
hanya hidup dari hari ke hari tanpa memikirkan hari esok yang cerah. Masih
ingatkan kita tentang cerita Colombus yang terombang-ambing di lautan
berbulan-bulan lamanya sehingga para kelasi dan anggota kapal sudah mulai bosan
dan kehilangan harapan. Bila saat itu Colombus tak terus menerus menggaungkan
semangat, maka bisa jadi mereka akan mati di lautan ketimbang sampai di
kepulauan Bahama dan menemukan benua Amerika. Lebih jauh lagi mengikuti arus
zaman beberapa abad kebelakang, ketika Thoriq bin Ziyad menyeberangi lautan
atlantik dari Afrika demi mencapai semenanjung Iberia bersama pasukannya.
Ketika sampai di daratan, ia kemudian membakar seluruh kapal dan menyerukan
pasukannya untuk berperang hingga titik darah penghabisan. Karena tak punya
pilihan lain, maka kemenangan pun menjadi hasil yang gemilang dan dicatat oleh
tinta emas para sejarawan dari masa ke masa sebagai tonggak yang menciptakan peradaban
baru di kawasan Eropa. Intinya, tujuan adalah akhir dari sebuah pekerjaan,
namun tujuan juga merupakan sebuah awal bagi hari cerah yang baru. So, please!
Look at the sunny side of everything.
Comments
Post a Comment