Mendung
Maka
angin dapatkah ia membawanya menjauh.
Agar
rembulan menampakkan wajah asri.
Menyapa
binar-binar mata setiap insan.
Tersenyum,
riang, bahagia.
Saat
hujan turun pagi ini.
Seketika
ia membawa ranumnya warna warni pelangi.
Dan
mekarnya mawar dalam senyuman mewangi.
Bersedia
membentuk rasa elok surgawi.
Setiap pekerjaan memiliki tingkat kesulitannya masing-masing,
tergantung seberapa berpengalamannya seseorang, atau seberapa cerdik ia mencari
jalan keluar dari setiap masalah yang ia kerjakan. Banyak orang setelah sukses
dalam satu pekerjaan, merasa telah menyelesaikan seluruh tugas-tugas yang ada
di dunia. Penyakit sombong pun masuk dalam dadanya sehingga membuatnya lupa
bahwa dibalik “topeng” kebesarannya tersimpan ketidakberdayaannya yang sangat
akut. Apa pasalnya? Karena ia cuman tahu atau ahli dalam satu hal saja. Ia
tidak mungkin mempunyai kemampuan yang mumpuni dalam setiap tugas, karenanya ia
sebenarnya selalu butuh akan orang lain dan menutupi kekurangannya dengan
kehebatan dalam satu hal saja, yang mungkin itu tidak berpengaruh bagi
kehidupan orang lain.
Menurut sejarah, penggunaan uang yang pertama kali memperluas jaringan
pekerjaan dan menambah taraf hidup serta kesejahteraan manusia. Sebab ia dapat
membeli apa saja komoditas yang tersedia dengan uangnya. Saat manusia belum
mengenal uang, barter adalah hal yang lazim. Perbedaannya adalah sistem barter
tidak memiliki standar nilai yang baku. Barang dengan barang, Kayu dengan
kapas, Ikan dengan padi, gandum dengan alat-alat besi dan lain sebagainya.
Artinya manusia harus bekerja keras sedemikian rupa untuk bisa menghasilkan
sesuatu yang ukuran penukarannya belum dapat ditentukan sebab tergantung
kesepakatan kedua belah pihak mengenai berapa jumlah barang yang akan ditukar
dengan barang lainnya.
Dengan adanya uang, manusia bisa mengontrol nilai jual beli barang.
Semua barang ditaksir dan ditentukan pembeliannya dengan sebuah benda sederhana
berbentuk macam-macam, bisa emas, perak, kain beludru, sutera, maupun kertas
biasa seperti yang kita kenal sekarang ini. Sehingga manusia dapat bebas
membeli apapun dengan menukarkan sejumlah uang yang dihasilkannya dari upah
kerja atau transaksi penjualan barang. Ia bisa memperhitungkan untung rugi dari
pembelian atau penjualan tersebut dengan melihat nilai uang yang ada padanya.
Uang, membuat manusia yang tadinya tak bisa apa-apa menjadi sangat
kuat dalam kehidupan sosialnya. Ia bisa saja membeli sesuatu untuk menunjukkan
betapa hebat dan kuat dirinya. Mempunyai uang merupakan symbol status sosial
yang disegani di masyarakat. Jika dulu sebuah profesi adalah kehormatan, maka
sekarang uang adalah kehormatan itu sendiri. Ia tidak bisa digantikan dengan
apapun juga sehingga kehormatan pun tak jarang dijual hanya untuk segepok
kertas yang “dianggap” bernilai itu.
Kembali kepada kedigdayaan kita sebagai manusia yang berjiwa “duit”,
ketika kita berduit, maka kemampuan jasmani kita berkurang sangat banyak. Kita bisa
membeli motor, mobil, dan rumah. Jika dulu orang yang ingin membangun rumah
membuat sendiri rumahnya dari batu, kayu dan bahan-bahan lainnya yang ia ambil
dari hutan, sekarang kita hanya tinggal membeli, maka rumah pun sudah di depan
mata kita. Kekurangan aktifitas fisik memang bisa diakali dengan mengeluarkan
banyak uang di Gym namun itu tidak berarti kita telah tahan banting dari sisi
psikologis setelah fisik dikuatkan melalui cara tersebut. Karena banyak orang
sehat, kuat dan kaya, tapi kemudian ditemukan bunuh diri di apartemen mewahnya.
Ternyata uang bukanlah segalanya.
Sebagai makhluk sosial, kita tidak bisa hidup sendiri. Meski kita
sudah berusaha menafikannya dengan mencukupi kebutuhan kita sendiri dengan uang
seakan akan di dunia ini hanya ada kita dengan uang kita, padahal yang
mencukupi kebutuhan kita sehari-hari adalah saudara-saudara kita juga se nenek
moyang yaitu Nabi Adam. Semua yang kita beli itu diproduksi oleh manusia,
sayang kita tak bisa menyalurkan emosi sosial kita kepada mereka dan hanya
melihat barang yang baru jadi di tangan kita. Kita makan nasi, namun kita lupa
di luar sana ribuan petani menggarap sawah dengan keringat tumpah ruah, Saya
berani bertaruh bahwa kita tak akan bisa menjadi petani bahkan jika kita ingin
sekalipun. Mengapa? Karena petani sawah ditempa sejak dahulu kala di sawah.
Menebar benih, menyemai, menanam, memindahkan benih, memberi pupuk dan
menyemai. Hal itu sangat sangat membutuhkan tenaga yang sangat ekstra kuat dan
kita pasti tak akan mampu begitu. Petani kurus itu, yang tidak bernam sekalipun
menginjak Gym, ternyata lebih kuat daripada hampir semua orang di dunia. Itu
hanya satu contoh, belum melihat contoh-contoh yang lain.
Dengan
mengetahui hai itu, diharapkan kita bisa sedikit sadar mengenai seperti apa
peran kita dalam kehidupan ini. Setiap pekerjaan yang kita lakukan berarti
memperkokoh sebuah dinding. Dinding yang besar merupakan hasil dari
bebatuan-bebatuan kecil yang disusun bertumpuk-tumpuk hingga menjadi tinggi.
Jika satu batu terlepas maka niscaya memperlemah keseluruhan dinding apalagi
jika batu yang paling bawah bergeser dari tempatnya, maka dinding akan roboh,
yang berarti peran kita juga akan berakhir. Itu sebabnya tradisi dan budaya
ibarat pondasi-pondasi kita yang diperkokoh lagi dengan agama. Jika semua
bergeser dari tempatnya maka kita pun, sebagai batu-batuan yang berada paling
atas dari dinding akan goncang dan rapuh. Dengan kesadaran semacam itu, kita
dapat menghargai apapun yang kita hadapi, tidak sombong karena kita dapat
menghasilkan lebih banyak uang dari yang lain. Singkat kata, memaknai hidup
bukan dari harta semata, namun dari peran apa yang bisa kita kontribusikan bagi
lingkungan. Sekian semoga setelah mendung yang gelap, akan muncul pelangi yang
indah.
Wallahu a'lam

Comments
Post a Comment