URAIAN FILSAFAT SEJARAH


I.                   Cerita,teori dan kritik
Laporan dalam tulisan seorang ahli sejarah adalah langkah terakhir yang ia buat dari aktivitas ilmiahnya. Ketika sejarah telah mencapai bentuknya yang terakhir ditangan sejarawan, maka cerita itu bukanlah hanya sekedar cerita, namun bagian dari hasil penelitian atas data-data yang empiris berdasarkan subjektifitas dan pengalaman sejarawan tersebut. Maka dalam sebuah cerita sejarah perlu ada kritik yang memperhatikan kesimpulan-kesimpulannya. Harus ada bagian-bagian yang merefleksikan catatan-catatan yang terdahulu. Pikiran-pikiran harus menjadi sebuah teori yang dapat dibuktikan, diuji dan ditelaah secara mendalam. Sejarawan harus bisa memilah bahkan sewaktu-waktu dapat memisahkan atau menghilangkan teori-teori yang disenangi apabila tidak sesuai dengan peristiwa yang ada.
Karena itu G.J Renier menyatakan ada dua ancaman yang mesti pada tahap terakhir penulisan sebuah cerita sejarah: Kostruksi cerita yang keluar dari peristiwa-peristiwa dan kritik peristiwa melalui cerita. Namun hendaknya Sejarawan tidak menutup mata dari uraian-uraian individu dan personal, karena dalam banyak hal ini tidak dapat dihindarkan. Dengan begitu dalam penyampaian sebuah cerita sejarawan harus memilih antara sifat kebebasan dan keterbatasan. Karena ia mengetahui berbagai macam peristiwa-peristiwa dan ia harus memilih dari sekian banyak peristiwa tersebut apa yang akan dipergunakan dan pilihan yang ia tentukan harus dilaksanakan.
Ahli sejarah dalam perumusan metodologinya sendiri hendaknya menggunakan imajinasinya dalam melihat peristiwa yang terjadi. maka ia dapat mengembangkannya dengan merujuk pada realitas yang ada. Metodologi yang dipakai adalah untuk melakukan serialisasi pada bentuk-bentuk peristiwa dan menyajikannya dalam sebuah cerita.
Seleksi
Sejarawan dalam penguasaan data-data yang dimilikinya berusaha menuangkannya dalam bentuk cerita. Dari pengamatan ini dengan menghapus metode kritik dari pemikiran kita, kita dapat membayangkan dapat ikut dalam suatu permainan semacam puzzle yang menyusun bagian-bagian peristiwa yang terpisah satu sama lain. Kita bisa memilih untuk menghilangkan bagian yang tidak sesuai dengan bagian yang lain dan mengambil bagian yang sesuai dan mengembangkannya menjadi cerita yang utuh. Ini tergantung dari sejarawan tersebut bagaimana penguasaannya dalam data dan informasi.
Proses ini tidak terlepas pula dari penguasaan ilmu-ilmu bantu yang menyokong data dari suatu peristiwa. Sebuah contoh bila kita mengatakan “Sebuah batu besar mirip arca telah ditemukan di bawah bukit itu” berarti ilmu yang dipakai adalah ilmu bumi atau Geologi untuk menentukan letak suatu daerah, juga ilmu Arkeologi untk dapat mengembangkan hasil temuan diatas. Ini dapat membantu sejarawan untuk mengembangkan laporannya berdasarkan data-data yang didapat. Lalu bisa saja ia menghilangkan sebuah data apabila dianggap tidak cocok dan tidak termasuk dalam fokus yang sedang ia dalami. Jadi seleksi adalah proses pemilihan data yang sesuai dengan kebutuhan studi sejarah.
Prinsip-prinsip serialisasi
Serialisasi adalah metode dimana cerita disusun atas peristiwa-peristiwa yang membentuk sub-cerita. William James mengatakan bahwa semua pengetahuan itu adalah sebuah rangkaian yang saling jalin menjalin. Seorang sejarawan tidak mampu menyampaikan sebuah peristiwa tanpa dihubungkan dengan peristiwa-peristiwa yang lain. Sejarawan mendapatkan prinsip mengenai penyusunan serial-serial ini bukanlah dari hasil studi yang mendalam mengenai masa silam umat manusia akan tetapi berdasarkan pengamatan dan pengalamannya sendiri beserta gagasan-gagasan yang telah ditetapkan sebelumnya lalu membuktikannya dalam penerapan atas data-data yang dipakai.
II.                Metode-metode Serialisasi
1.      Kronologi: Kronologi adalah kumpulan berbagai cerita yang disusun berdasarkan urutan waktu. Kronologi juga mengatur interval yang berlalu diantara waktu-waktu tersebut.
2.      Kausalitas (hubungan sebab-akibat): Kausalitas atau Sebab-akibat adalah suatu alat yang akrab di kalangan ahli sejarah, dan para ahli metodologi memandangnya sebagai suatu ciri yang esensial bagi ilmu sejarah. Suatu peristiwa dapat terjadi dengan sebab tertentu secara langsung maupun tidak langsung. Namun dalam ilmu sejarah tidak semua hukum sebab-akibat dapat diterima karena menrujuk kepada langsung atau tidak langsungnya suatu sebab.
3.      Imajinasi: Imajinasi sangat diperlukan dalam ilmu sejarah, sejarawan mengamati data dan fakta lalu mensimulasikannya dalam pikiran sebagai imajinasi. Ia membayangkan suatu peristiwa seakan-akan ia berada dalam peristiwa tersebut. Ini tentu saja dengan memperhatikan setiap detil dari suatu peristiwa. Mommsen mengatakan, fantasi adalah induk dari sejarah. Croee dan Collingwood menyebutkan bahwa imajinasi merupakan sumber pengetahuan sejarah, sedangkan Helphen secara sederhana menguraikan kemungkinan “mencari dalam pengalaman kita sendiri guna koreksi terhadap kurangnya informasi kita”. Imajinasi menurut para ahli metodologi turut memainkan penting dalam beberapa tahap karya ahli sejarah. Imajinasi menyajikan suatu metode untuk serialisasi peristiwa-peristiwa yang diamati melalui penelitian, ini memungkinkan untuk memperoleh kaitan yang menghubungkan antara peristiwa-peristiwa yang terpisah dan membandingkannya dengan pengalaman-pengalaman yang tersimpan dalam memori.

III.             Perilaku manusia
1.      Sifat dasar manusia
Collingwood menjelaskan bahwa sifat dasar manusia tidak seragam tetapi berbeda-beda, sebagaimana beragamnya dalam ruang, demikian pula dengan waktu. Perubahan sifat manusia terjadi melalui suatu proses pertumbuhan yang terus-menerus.Maka dari itu sejarawan harus menserialisasikan suatu peristiwa dengan melihat dan memahami watak dasar manusia yang berubah-ubah itu seiring dengan berjalannya waktu. Dengan begitu ia dapat mengetahui lebih dekat dan erat apa yang sedang ia tuliskan. Hipotesis yang ia gunakan harus didasarkan pada pengetahuannya mengenai cara manusia merasa, berpikir dan bertingkah laku.
2.      Psikologi
Bagaimanakan ahli sejarah dapat mengetahui tentang perilaku manusia yang mereka perlukan demi menerangkan tentang perilaku manusia pada masa silam? Kita menyetujui bahwa karakter adalah perilaku yang dibiasakan. Orang yang melakukan kekejaman pada masa yang silam mungkin juga melakukan hal yang sama di masa depan. Karena itu untuk memperoleh suatu pengertian tentang karakter membutuhkan keahlian para ahli psikologi. Apabila pemahaman ahli sejarah tentang karakter telah berkembang dengan semua metode-metode yang diperoleh dalam masa silam. Ia dapat memasukkannya kedalam suatu hipotesis mengenai aksi manusia. Singkatnya tanpa adanya pengetahuan tentang psikologi, akan muncul ketidak terkaitan dengan rangkaian yang dibuat dan ketidak utuhan materi yang didapat.
IV.             Sejarawan filsafat sejarah
Tidak ada dilema maupun hambatan yang ada dihadapan ahli sejarah untuk menerangkan cerita-cerita yang telah sampai pada pengetahuannya meskipun terdapat kelemahan dalam metode-metode serialisasinya. Kausalitas, imajinasi dan pemahaman tentang karakter manusia memberikannya ruang untuk menghubungkan peristiwa-peristiwa yang terpisah sehingga menjadi layak untuk disampaikan. Tiap-tiap serial muncul sebagai suatu rangkaian di mana peristiwa saling mengikuti satu sama lain bukan karena kebetulan, tapi sesuai dengan yang ditentukan dan ada dalam imajinasi ahli sejarah.
Perlu disadari adanya dogma-dogma yang berubah mengakibatkan timbulnya sesuatu yang ekstrem dalam penulisan sejarah terlebih pada abad ke 18 yang membuat ilmu sejarah yang berdiri sendiri dimasukkan kedalam bagian ilmu sosiologi oleh para pengikut marxis. Ini dikarenakan banyak hal yang dipaksakan dalam sistem mereka yang totaliter. Kaun Marxis memasukkan paham-paham yang hebat dari Marx dan Engels kedalam hipotesis-hipotesis sejarah. Mereka beranggapan bahwa filsafat sejarah merupakan tujuan dan puncak dari segala aktifitas sejarah. Professor Sneller, seorang Calvinis yang terkemuka mengemukakan bahwa filsafat sejarah sebagai “Suatu penelitian untuk arti sejarah” yang dimaksudkan sebagai arti dalam revelasi pengikut calvinisme.
Dan mengenai mitologi, sudah banyak doktrin-doktrin yang diakui membentuk falsafah sejarah mereka sendiri. Sesuai dengan mitologi yang berkembang di setiap ruang dan waktu. Penggunaan mitologi ini menurut Toynbee membantu dalam pemikiran dan sebagai dasar untuk alasan dan klasifikasi selanjutnya. Sejarawan dianjurkan untuk membuka mata dan telinga kepada bahasa dan mitologi. Ini penting untuk mendapatkan penjelasan tentang filsafat yang ditimbulkan oleh mitologi-mitologi tersebut.
Sebagai kata akhir, tentunya bukan tugas seorang sejarawan untuk  merumuskan suatu filsafat sejarah. Tidak ada ahli sejarah yang mendekati tugasnya sebelum adanya pertimbangan-pertimbangan tertentu dan generalisasi sistematis sekitar perjalanan umat manusia di masa lampau. Sejarawan harus berhati-hati dan tidak boleh lupa bahwa ia menulis bukan untuk membuktikan teori atau memberikan suatu sumbangan terhadap filsafat sejarah.

Comments

Popular Posts