Sekedar basa-basi.....
Suatu siang, seperti siang-siang lainnya yang terasa panas. Aku terhenyak di kursi ruang belajarku, kegerahan dengan keringat bercucuran deras dari pelipis dan wajahku. Sambil menggapai kipas angin mini diatas meja belajar kutatap satu persatu barang-barang yang ada di sekitarku, satu kata. BERANTAKAN.
Aku pun menyalakan kipas angin dan mulai merapikan sedikit barang yang berhamburan, saat akan merapikan buku kulihat sesuatu berwarna cokelat yang selama ini kucari-cari. Ah ternyata ia ada disini, Alhamdulillah yah karena kutemukan juga buku harian cokelatku ini setelah sekian lama. Buku yang kumaksudkan sebagai tempat curahan hatiku tapi tak sampai karena keburu kehilangannya. Tiba-tiba saja aku berpikir ingin membagi sesuatu pada teman kecilku di sudut rak buku itu, kasihan ia tergeletak berdebu karena jarang kubuka dan kuisi dengan sesuatu. Ingin kubagi rasa hati dan batinku, ingin kutuangkan dalam bentuk tulisan. Tapi apa yang harus kutulis, tak ada sesuatu pun yang terlintas dibenakku. Lalu pelan-pelan sambil duduk nyaman aku mengambil sebuah pena berwarna dan bertinta hijau, warna kesukaanku. Semenit, dua menit berlalu. tak ada coretan atau goresan sesenti pun. Aku bingung mau menulis apa, padahal ada sekian banyak cerita hari ini, cerita kehidupan yang menguak sejuta kreasi dan obsesi para pelakunya. Kisah itu menarik untuk dituang dan digoreskan menjadi untaian kata-kata. Tapi untuk kali ini kepalaku terasa ngehang alias mampet. Namun kucoba menyusun jalan pikiranku sendiri, dari mula-mula kutemukan kembali buku bersampul cokelat tebal ini, yang kubeli beberapa tahun yang lalu, buku ini masih kosong, hanya ada tulisan kecil dipojoknya yang bertuliskan. ''BELONG TO NASIF AKBAR, for the best creation''. Aha...... akhirnya kuputuskan apa yang harus kutulis. Pertama-tama kunamakan buku ini Si Cokelat. haha,,, aneh ya! tapi ya sudahlah itu saja lagi pula warnanya pun cokelat. engga apa-apa kan. hehe.
Aku pun terus menulis :
.REALITA DARI SI COKELAT.
Hari ini kunamakan Engkau Si cokelat. Entah karena warnamu yang cokelat atau karena kau setelah ini akan menggambarkan kekeruhan dan gejolak hati Tuanmu ini, bagai genangan air keruh yang mencokelat ditanah becek. Terhempas dan terinjak-injakarus kehidupan yang keras dan membingungkan. Disisihkan ataupun diremehkan waktu yang terus mengalir deras, sederas air terjun niagara. Yang tajam setajam samurai jepang. Yang pahit, sepahit maja. Yang asin, seasin laut mati. Itulah yang akan terjadi nantinya. Hei cokelat! dengarkanlah, kau nantinya akan menggambarkan sepotong perasaan, sebingkai kenangan, secarik luka dan kepedihan. Maka bersiap-siaplah! namun nantinya kau akan membalut semua itu dengan kata-kata yang berbait dan bersajak, memuat potongan puzzle harapan dan sendi impian, lalu diaduk dan dikocok dengan blender tinta dan mixer pena yang tergores dan kadang-kadang tak terpahami. Mungkin juga tuanmu ini terlalu malu untuk mengungkapkannya secara terang-terangan. Atau ia takut kalau-kalu saja ada orang yang dengan tanpa sepengetahuannya, membacanya sehingga membuat tuanmu ini malu. Mungkin saja! Tapi inilah yang dinamakan realita. Realita dari sisi-sisi tersembunyi tuanmu yang mungkin tak kan pernah terkuak sepanjang masa. Cokelat!!! Siapkan dirimu! Sungguh kau akan menggambarkan semuanya.....
Kuhentikan goresan pena ku, mataku terasa berat, Tak henti-hentinya aku menguap pertanda ngantuk. Lalu tak terasa aku pun tertidur disamping Teman kecilku.
Comments
Post a Comment