MUSAFIR KEPADA NYA
Nasif Tahta Dinillah
Hidup
ini bagaikan perjalanan panjang menuju keabadian yang paripurna. Suatu
perjalanan yang akan menentukan jalan hidup kita, baik ataupun buruk. Seperti
Rasulullah yang menggambarkan dirinya bagaikan musafir yang singgah sebentar di
waktu malam untuk kemudian melanjutkan perjalanannya di waktu pagi, maka dunia
ini serasa amatlah kecil dan receh. Tiada waktu untuk bersenda gurau, tiada
waktu untuk bersenang-senang, karena kita akan segera pergi meninggalkannya
tanpa bisa kembali lagi. Artinya segala sesuatu yang kita lakukan akan sia-sia,
jika kita hanya duduk diam menikmati fatamorgana kehidupan. Ibarat berhenti
berjalan dan membangun pondasi yang kukuh, kita merasa tinggal di dunia ini
selamanya, tidak akan dibangkitkan, dan merasa bahwa hidup ini hanya sekali
lalu kita menikmatinya sembari lupa akan tujuan kita yang sebenarnya dari hidup
ini.
.
Ketika
kita tersadar, rupanya kita telah menjauh dariNya, intrik politik melalaikan
kita, keluarga dan anak-anak melenakan, harta dan tahta membuat kita
berkonflik, bermusuhan bahkan saling bunuh. Lalu berkat rahmat Allah kita
insyaf, lalu ingin berjalan kembali kepadaNya serta memulai kembali rasa dekat
dan nikmat perjalanan itu. Maka nasihat seorang Sufi dan penyair bernama
Fethullah Gulen bagus untuk kita cermati. Ia berkata “Seorang musafir yang
hendak menemui Tuhan tidak memiliki waktu untuk bermusuhan”. Karena waktu untuk
itu dianggap sia-sia dan membuang waktu perjalanan. Sedetik pun tidak terbersit
dalam pikiran para musafir itu untuk memusuhi apapun. Dalam hal ini yang mereka
lakukan hanyalah terus melangkahkan kaki sesuai jalan yang diridhoi oleh Tuhan
agar nantinya akan sampai ke tujuan pula. Dalam meniti jalan ini, seorang
musafir harus mengikuti rute yang telah ditentukan. Memang rute itu sangat
terjal dan berbatu, namun ketika ia sampai pada ujungnya maka menurut
keagunganNya, ia berhak untuk menemuiNya di akhir perjalanan serta mendapatkan
jamuan yang istimewa di dalam karuniaNya.
.
Dengan
permusuhan yang tidak berhenti, seorang musafir tidak akan mendapatkan rute yang
tepat untuk perjalanannya, sebab ia sibuk mengurusi urusan sepele yang receh.
Karena itulah jalan yang ia tempuh dirasakan mudah sebab berbagai teriakan dan
ancaman tidak dihiraukannya. Musafir itu adalah kita, dan jalan yang terjal itu
adalah melawan hawa nafsu dan mengerjakan berbagai kewajiban agama. Rasa cinta
kepada Tuhan menjadikan seorang musafir yang sukses selalu memandang sekitarnya
dengan pandangan kasih sayang. Semua ia lakukan demi menolong saudaranya agar
bersama-sama menuju jalan yang lurus. Mereka tidak menantang pihak lain dan
menyalakan api dendam dan permusuhan. Para musafir yang sesungguhnya dicintai
oleh semua makhluk sebab Tuhan pun mencintai mereka. Maka, orang-orang yang
memusuhi mereka akan mendapatkan murka Tuhan. Itu pemikiran yang paling logis.
.
Mereka
yang mengaku beragama namun tidak memiliki kasih sayang dalam dada sejatinya
hanya memiliki ego dalam dirinya untuk memaksakan segala kehendaknya kepada
orang lain. Ia mendzalimi diri sendiri dengan menyakiti hati orang lain, mencela
dan merendahkan mereka. Mereka menjelma sebagai orang-orang yang berhati kasar
yang tidak mau mendengarkan pendapat. Mereka menganggap bahwa diri merekalah
yang paling benar sehingga agama pun menjadi domain khusus bagi mereka.
.
Para
wali, sufi, dan orang-orang shalih yaitu para mencari Tuhan yang mendedikasikan
waktu mereka untuk berdakwah ke jalan Allah tidak memandang kelompok dan
organisasi. Mereka adalah orang-orang yang bersih hatinya dari penyakit batin
seperti dendam, iri dan dengki terhadap sesame seperti yang telah digariskan
oleh Al-Qur’an. Mereka tidak akan ragu untuk bersatu dengan pendakwah lainnya
jika dimungkinkan dan mereka tidak akan segan memberi bantuan tanpa melihat
warna bendera maupun warna kulit. Semuanya dibantu dengan ikhlas karena mencari
karunia Tuhan.
.
Namun
di sisi lain, tantangan terus berdatangan silih berganti. Ujian untuk kenaikan
pangkat dihadapan Tuhan memang suatu keniscayaan bagi orang yang beriman.
Mereka tidak bermusuhan dengan siapapun, terlepas dari pengaruh partai politik
atau afiliasi ekonomi manapun. Namun jika berhadapat dengan ujian yang
menhambat jalan mereka, mereka justru akan menghindari fitnah untuk
menyelamatkan saudara-saudara mereka yang lain. Mereka siap berkorban demi
orang lain bahkan melebih untuk diri mereka sendiri. Begitulah ciri-ciri para
musafir yang meniti jalan menuju Tuhan. Dalam kesendirian dan ujian, mereka
tetap saja sabar dan bertawakkal kepadaNya.
.
Begitulah
seyogyanya seorang musafir kepadaNya, yang berharap-harap cemas saat dalam
perjalanan menuju negeri Agung yang dijanjikan oleh sang Raja Diraja. Namun
bila kita tengok sedikit ke belakang, melihat secara cermat situasi dimana kita
hidup ini, maka yang datang adalah rasa pesimis ditengah riuh rendah kehidupan.
Para pendakwah itu, yang hidup hanya cukup untuk kehidupan dirinya sendiri dan
keluarganya, bersandar kepada karunia Tuhan yang maha luas pada zaman sekarang
ini sudah semakin banyak saja, tidak terhitung. Di sisi lain, para pendakwah
yang kaya raya dan berusaha menggapai karuniaNya yang lebih Mahaluas lagi di
negeri ini hanya sedikit saja. Entah tidak bertambah atau semakin berkurang
karena panggilanNya. Para musafir mukhlisin itu kembali kehadiratNya membawa
segudang amal, sedangkan kita tinggal disini tak mampu mengikuti jejak mereka.
Para orang kaya yang beriman, penguasa beriman yang selalu minta petunjukNya
kini semakin sedikit sedangkan para guru hanya bisa berdoa mengharap muridnya
kelak menjadi orang besar, sebuah doa yang bisa jadi dikabul, bisa jadi tidak.
.
Tanpa
sadar situasi ini membuat kita hanya sebagai buih dilautan. Tak bisa bersaing
dengan bangsa lain. tak ada lagi cerita satu orang berbanding seribu. Jika
berhadapan satu lawan satu pun, mungkin kita akan kalah. Dalam sebuah
perjalanan batin mungkin kekalahan merupakah hikmah tersembunyi, namun kita
tidak bisa terus terusan begini. Pasalnya, kita hidup bukan untuk diri kita
sendiri. Para musafir kepadaNya, hendaklah hidup untuk menjadi cermin bagi
orang lain, menjadi teladan bagi masyarakat luas, dalam ketaatan, dalam keimanan,
dalam kehidupan duniawi yang fana ini, dalam semua usaha-usaha ekonomi.
Begitulah para Musafir mengusahakan semua aspek kehidupan rohaninya. Tak
jarang, sang musafir harus mengeluarkan lebih dari penghasilannya perbulan
untuk membantu orang lain, sedekah, infak, wakaf, untuk pembangunan masa depan
generasi bangsa dan untuk kemajuan agama. Tak bermusuhan dengan siapapun, juga
berarti tak mengindahkan permusuhan dari orang lain, terus beradaptasi dengan
situasi zaman, serta berdiri tegak sebagai seseorang yang elegan di mata
manusia namun tersungkur haru mengingat dosa dan terus membuncahkan harapan
ketika “chatingan” denganNya.
.
Ketika
sang musafir kelelahan dan hendak beristirahat, Tuhan berkata kepadanya apa ia
hendak menikmati hidangan yang disajikan kepadanya di negeri Agung yang
ditawarkan oleh Tuhan. Jika iya, maka hendaknya ia terus berjalan. Sejatinya
berganti-ganti tugas dan pekerjaan di dunia juga merupakan istirahat yang
bernutrisi. Musafir hanya akan istirahat ketika waktunya tiba. Ketika ia sampai
ke sebuah gerbang mebuka antara dunia ini dengan dunia yang berlainan. Gerbang
itu adalah kematian, dan kematian itulah yang disenangi oleh para musafir
kepadaNya. Wallahu A’lam.

Comments
Post a Comment