LINGKAR-LINGKAR MIMPI
Oleh: Mulki Mulyadi
Sore
itu langit tampak kemerahan, bagai semburan api yang merata dilangit. Matahari
mulai beristirahat diperaduannya, setelah seharian menyinari bumi. Waktu
menunjukkan setengah lima sore, kutarik nafas dalam dalam. Sore ini aku,
seperti biasa tengah duduk di depan kosan sambil memandang langit ciptaan tuhan
yang kemerahan itu. Pikiranku beradu, sulit untuk diterjemahkan, gelisah tak
terkira. Tak tahu lah kenapa, yang penting saat ini aku lagi risau yang tak ada
sebabnya. Sudah dua hari ini pikiranku tak tenang setelah hampir sebulan aku dijakarta, berniat
menuntut ilmu dari kampung halaman, mencari pengalaman dan hakikat kehidupan.
Tapi Mata ini terus saja menerawang seolah ingin menembus langit. Tiba tiba aku
merasa tersihir, kata kata yang ku ikrarkan tempo hari harus kucapai.
Setidaknya mendekati pencapaian tersebut , bisakah aku mencapainya dengan
keadaanku saat ini. Tentu saja tidak, ini baru permulaan, baru awal. Baru
ancang ancang yang melangkah saja pun belum. Saat ini pun aku belum kuliah,
masih menunggu saat pendaftaran mahasiswa baru di perguruan tinggi yang
kudambakan sejak masih di madrasah. Yaitu
lembaga pendidikan islam dan arab LIPIA. Tapi kenapa
perasaanku terasa tidak enak akhir akhir ini. Aku ingin lebih, lebih dari ini.
Menuntut ilmu lebih jauh lagi, berkelana ke berbagai penjuru dunia. Padang
sahara di afrika, padang es di alaska, menyusuri kota kota bergaya abad
pertengahan di turkey, persia, prancis, spanyol, india. Benyebrangi sungai-sungai eksotik di china,
menikmati panorama yang indah di australia, berkunjung ke pulau-pulau di samudra pasifik
yang luas. Ah... impian yang terlalu tinggi, serasa menyesakkan. Buktinya, aku
masih harus duduk disini, dikosan yang sempit ini. Melamun dan tidak melakukan
apa apa. Hanya mampu menatap langit merah jakarta yang berpolusi, tercemar oleh
tangan-tangan anak bangsa perusak
warisan penjajah belanda. Tapi menurutku, penjajah belanda masih lebih baik
dari bangsa yang dijajahnya, minimal lebih baik dalam satu hal. Kebersihan.
Dikatakan bahwa djakarta zaman penjajahan lebih bersih seribu kali lipat
daripada ketika zaman republik. Bukti bahwa bangsa ini masih harus banyak
belajar soal kebersihan. Aku kembali menerawang, pikiran pikiran bebeda datang
silih berganti, mulai dari keluarga dirumah, sampai masalah bangsa yang sulit
terpecahkan. Kadang kuberfikir, apa sih masalahmu para anak bangsa, sampai tega merusak tanahmu
sendiri, demi keuntungan sesaat yang merugikan. Aku bosan, bosan dengan
pemandangan kota-kota di negeriku sendiri, bosan dengan sampah yang berserakan, tata kota
yang tidak teratur dan tak rapi. Keterbelakangan dan kemiskinan yang merata diseluruh penjuru
negeri. Bukti ketidakbecusan para pemimpin. Kuingin belajar dengan bangsa
bangsa lain yang lebih maju, belajar tata kehidupan mereka, keteraturan, cara
pandang mereka terhadap lingkungan. Dan bagaimana para pemimpin mereka mampu
dan dapat mensejahterakan rakyat mereka. Dan ketika aku menjadi pemimpin suatu
hari nanti, aku dapat menularkan ilmuku. Lalu berharap dapat membuat negeri ini
lebih sejahtera dan makmur. Gemah ripah loh jinawi, baldatun toyyibatun wa
robbun ghofur... sekali lagi kutersadar dari lamunanku, kali ini aku mendengar
suara adzan berkumandang. Ternyata waktu telah menunjukkan pukul enam tepat.
Saatnya menunaikan kebutuhanku terhadap robbku, semoga dengan terus beribadah,
bertaqorrub, serta berikhtiar. Ia akan mengabulkan cita citaku suatu hari nanti.
Amin.
Sepulang
shalat aku ingin membaca alqur’an, itu menenangkan hati dan pikiranku yang
sedang kacau ini. Ayat demi ayat kubaca dengan seksama serta penuh penghayatan.
Lembar demi lembar kutartilkan, kadang kuberhenti membaca. Mencoba meresapi
kandungan di dalam ayat ayatnya dan tak terasa aku pun terhanyut dalam lamunan di tengah samudra
kalam ilahi yang tak bertepi. Satu jam berlalu. Mataku terasa lemah dan berat.
Perlahan lahan kututup lembaran alqur’an suci dan kusimpan di atas meja. Ngantuk pun tak tertahankan, akhirnya. Aku
ambruk di atas sajadah tempatku shalat. Satu kata, sungguh nikmat.
Akhirnya
setelah beberapa minggu hari pendaftaran LIPIA yang kutunggu-tunggu telah
datang, aku pun sibuk mengutak atik ingatanku akan pelajaran yang ku terima
dari madrasah dulu, terutama bahasa arab. Nahwu, sharaf dan balaghoh. Buku-buku
aku pinjam dari temanku karena aku tidak membawa satu pun buku dari kampung,
ijazah ku persiapkan dengan semua persyaratan yang ada dan kusatukan dalam map.
Hari itu aku bersama beberapa
teman datang ke kampus, ternyata sudah banyak orang yang mendaftar, jumlahnya
sekitar dua ratusan orang. Mereka menyemut di depan kampus mengantri panggilan
dari bagian administrasi. Kami terlambat pikirku, pertanda buruk pertama. Dan
singkatnya setelah antrian panjang yang melelahkan, aku menyerahkan persyaratan
yang diminta. Pertugas administrasi menatapku dengan mata mengejek, aku jadi
gugup sendiri. Setelah memeriksa berkas
berkasku, Dia pun berkata kata dalam bahasa arab yang tak mampu aku tangkap,
lantaran cepatnya. Aku berusaha sedapat mungkin mencerna ucapannya, dan mungkin
setelah ia yakin aku tak dapat mengerti ucapannya. Dengan gaya yang di buat buat
Akhirnya ia mengucapkan kata-kata dalam bahasa indonesia namun langsung
mengagetkanku. Maaf anda tidak bisa kami terima untuk test disini. Katanya sok,
sambil membetulkan kacamatanya. Ia sepenuhnya menguasaiku. Pertanda buruk
kedua, pikirku lagi. Tap, tapi kenapa pak, tanyaku tergagap. Nilai rata rata
anda tidak mencukupi untuk test di sini. Mataku membelalak. Tapi pak saya datang
dari jauh, tolonglah pak beri saya kesempatan untuk test. Agar saya tidak
pulang kampung dengan tangan hampa pak, setidaknya ikutkan saya test. Kataku
mantap. Dia mendehem kecil lalu berbisik bisik dengan teman disampingnya agak
lama. Tak terasa kakiku bergetar saking tegangnya. Lalu ia pun bersuara dengan
mengambil posisi yang dramatis. Orang ini sok, kataku dalam hati. Sebenarnya
anda tidak bisa diterima untuk test, tap untuk kali ini boleh lah. Ia
tersenyum. Yah, ikutlah. Katanya lagi. Ia memberiku selembar kartu ujian
disertai foto. Aku pun bernafas lega. Tapi Sial, aku dikerjain. Pikirku sambil
mengambil kartu dari tangannya. Pertanda buruk ke ke tiga. Keesokan harinya aku
pun datang untuk menjalani test. Testnya kujawab dengan lancar dan tanpa
kesulitan yang berarti, bahkan aku pula yang paling pertama mengumpulkan
diantara sekian banyak pendaftar lainnya. Aku kelihatan mantap, tapi hatiku
ragu, akankah aku di terima. Aku pun meninggalkan ruang test dengan perasaan
yang galau.
Pagi
pagi benar temanku itu datang, ia membawa kabar baru dari website yang ia baca
kemarin. Ahmad, begitu aku memanggilnya. Ia datang tergopoh gopoh bak orang
kesetanan. Wajahnya girang luar biasa. Ada apa ahmad, tanyaku. Ahmad tersenyum
seraya menyodorkan beberapa lembar kertas berisi pengumuman sekaligus formulir pendaftaran.
Mataku menyipit membaca tulisan di atas kertas itu, disana tertera pendaftaran
beasiswa universitas Al-azhar
kairo. Mataku membelalak. Aku tak percaya lamunanku beberapa hari yang lalu
dijawab kontan oleh Allah, ini dia jalannya. Kataku dalam hati. ”Kapan nih pendaftarannya
mad”. Kataku
menoleh kepadanya. Ia tersenyum makin lebar. Cepetan siap siap, kita ke kemenag
sekarang. Apa, tanyaku kurang paham. Ngapain ke kemenag. Ayolah cepat, katanya
menarik tanganku. Tanpa banyak cincong aku langsung mandi dan berpakaian. Dalam
setengah jam aku sudah siap meluncur. Sekarang aku paham. Pendaftaran beasiswa
itu baru dibuka dua hari di kementrian agama. Kami harus segera kesana selagi ada
kesempatan. Sudan, pikirku. Apakah negara berpenduduk miskin ini adalah jalan
untukku ke luar negeri, apakah orang tuaku akan mengizinkanku. Ah sudahlah,
yang penting daftar dulu nanti baru informasi ketika sudah diterima. Sip aku
suka ide itu, toh kalau aku tidak lolos test, aku tak perlu bilang apa apa.
Kami berdua dengan semangat segera meloncat kedalam metromini yang akan membawa
kami ke kementrian agama. Hampir satu jam berlalu karena macet, aku dan Ahmad segera menuju ke
lantai delapan. Bagian urusan luar negeri. Pak qosim yang sedang bertugas
menyambut kami dengan senyum mengembang. Mau daftar beasiswa sudan ya.
Sambutnya riang. Kami mengangguk bersamaan. Lalu kami di persilahkan duduk
untuk mengisi formulir pendaftaran dan menyerahkan berkas yang diperlukan. Aku
mengisi dengan cepat, ahmad juga. Entah karena terlalu bersemangat atau
bagaimana, ahmad salah menulis sampai tiga kali dan terpaksa harus mengganti
kertas. Aku mencibirnya agar lebih berhati hati. Setelah mengisi formulir dan
menyelesaikan semua prosedur yang berlaku. Kami pun pamit mohon diri. Semoga
sukses ya adik-adik, testnya akan diadakan pada akhir bulan, Jadi jangan sampai lupa. Kata
pak qosim sambil menyalami kami, ia juga mengingatkan bahwa pesaing kami banyak
maka kami diharapkan dapat belajar untuk bisa lolos test ini. Kami berdua hanya
bisa mengangguk dan berkali kali mengucapkan insha allah.
Sepulang
dari kementrian agama, sensasi yang kudapatkan pagi tadi saat membaca
pendaftaran beasiswa sudan belum juga sirna, sensasi tegang, semangat, dan
sedikit rasa takut. Lalu rasa syukur tentunya, masih jua kurasakan. Apalagi
ahmad, ia yang paling bersemangat dalam hal ini. Ke Mesir adalah impiannya
sejak dulu, sejak masih di madrasah. Kali ini ia mendapat kesempatan, aku yakin
ia akan belajar lebih keras. Mesir
yang eksotic, Mesir yang menawan, Mesir yang menawarkan sejuta keindahan.
Sejuta ilmu dari ulama-ulama kelas dunia yang menggenggam sunnah dengan
gigi-gigi geraham mereka. Al-azhar syarif yang telah berabad-abad berdiri kokoh
ditengah pergantian kekuasaan dan politik menjadi simbol kekuatan agama islam
yang tidak akan pernah lekang dimakan zaman. Tujuan utama bagi para penuntut
ilmu dari segala penjuru dunia. Namun kini rasa gelisahku
bertambah, aku datang ke jakarta ingin mendaftar ke lembaga ilmu pengetahuan
islam dan arab. Tapi sampai saat ini aku masih menunggu pengumuman hasil test untuk
semester ganjil tahun ini, masih menunggu. Dalam hati aku terus berdoa, ya robb
pilihkan hamba jalan yang terbaik, kuatkan hamba. Amin.
Hari berlalu dengan cepat, akhirnya kabar buruk
itu datang. Namaku tidak tertera di papan pengumuman, aku terus mencari dengan
sia-sia. Air mataku meleleh membasahi pipi, aku tertunduk lesu tak bergairah.
Ahmad berusaha menghiburku berkali kali namun tak berhasil. Aku seperti orang
stress, linglung dan tak berdaya. Apalagi yang kuharapkan, sia-sia lah semua
impianku. Semua cita-cita ku. aku hanya bisa meratapi nasib dalam diam ditemani
Ahmad yang juga diam seribu kata. Tapi siang itu ahmad mendatangi kost ku dan mendapatiku
sedang tidur berselimut. Hey bro, jangan sedih gitu dong. Cepet bangun dan
belajar, minggu depan kita ada test. Kamu tidak mau pulang kampung dengan
tangan hampa kan. Katanya riang. Aku seperti tersengat mendengar kata-katanya
barusan. Apa mad, test apa?, tanyaku bingung. Kusingkap selimut yang menutupi
badanku, aku penasaran. Ahmad memperlihatkan selembar kertas yang bertuliskan
tanggal dan tempat test Mesir yang aku tunggu-tunggu. Aku seperti tak percaya,
aku seperti mendapatkan cahaya lagi, semangat baru untuk terus melaju dan
menggapai impian. Mungkinkah ini adalah takdirku, untuk mendapatkan yang lebih
baik dalam hidup. Sepertinya doaku tidak sia-sia. Akhirnya aku bangkit dengan wajah cerah. Ayo belajar. Kataku,
ahmad hanya menatapku dengan senyum gembira.
Ternyata kesuksesan itu tidak datang dengan
sendirinya, melainkan ia butuh pengorbanan dan perjuangan keras penuh lika liku
dan sandungan. Butuh lebih banyak doa ekstra dan tirakat. Begitu pula dengan
mimpi dan cita-cita. Tak hanya di raih dengan berdiam diri dan menatap kosong.
Aku ingin keliling dunia, itulah cita-citaku, itulah mimpiku. Tapi aku tak tahu
bagaimana cara memulainya. Tapi aku percaya seseorang yang bermimpi mestilah
harus dekat-dekat dengan apa yang ia impikan, sehingga ia mendapatkan apa yang
ia impikan. Hari ini aku berada diruangan kelas di salah satu SMA model di
jakarta. Bukan untuk kembali belajar sebagai murid SMA, tapi untuk menjalani
test beasiswa Al-azhar mesir. Luar biasa, ini impianku. berhari hari aku
belajar, kudekati impianku sedekat mungkin. Dan kuyakin bahwa pertolongan Allah
pasti ada, Allah pasti menjawab doa orang-orang yang meminta kepadaNya. lembar soal
pun telah dibagikan, aku menatap soal itu satu persatu dan ku jawab. Pena ku
serasa berjalan sendiri saat menjawab. Lancar dan halus, laju tapi pasti.
Setelah test tertulis dilanjutkan dengan test lisan, entah apa dan bagaimana
tiba-tiba saja aku merasa gugup. Tapi aku terus memompa dan memotivasi diriku
sendiri. Aku tak ingin kalah seperti aku kalah dalam test LIPIA sebelumnya.
Langkahku mantap, jawabanku pun mantap. Ayat-ayat suci yang kuhafal sebelumnya
terasa melekat di benakku, pertanda baik kurasa. Pertanyaan sang syeikh habis
kubabat, sang syeikh hitam sehitam bilal bin rabbah itu pun tersenyum memperlihatkan
giginya yang seputih es. Pertanda baik kedua.
Aku pun pulang ke kosan dengan hati tenang, ku
ambil air wudhu. Ku basuh seluruh anggota badanku. Aku ingin shalat, aku ingin
menumpahkan segala kesyukuranku kepada sang khalik. Meskipun belum tentu aku
diterima dalam test ini, aku masih harus bersyukur karena Allah masih memberiku
semangat untuk terus belajar, semangat untuk terus menggapai mimpi dan
cita-cita. Aku memang harus bangkit. Gagalnya aku dalam test sebelumnya memberi
pelajaran baru bagiku bahwa tidak semua orang dapat menggapai cita-citanya
secara instan dan cepat. Ia harus dimulai dengan proses. Ibarat bayi yang baru
lahir, ia harus mengalami proses yang panjang sampai akhirnya bisa berjalan.
Tak jarang sang bayi terus gagal ditengah usahanya dan berkali-kali terjatuh,
namun ia terus berusaha semaksimal mungkin sampai akhirnya Allah yang maha
pemurah memberikan jalan kepadanya, mengabulkan doanya, tidak menyia-nyiakan
usahanya. Akhirnya sang bayi yang cepat belajar mulai bisa melakukan banyak
hal. Dan karena kemurahan Allah pun sang bayi dapat tumbuh besar dan cukup kuat
untuk meraih mimpi barunya. Angan terindah untuk menggapai surga ilahi yang
tinggi. Ya robb, hambaMu ini lemah maka kuatkanlah hamba. hambaMu ini fakir
maka kayakanlah hamba. Ya robb, Jadikanlah hamba selalu bersyukur atas segala
anugerah yang Engkau berikan kepada hamba, dari hamba kecil sampai pada
sekarang ini. Dan jadikanlah hamba selalu bersabar atas segala musibah dariMu,
yang hamba tak kuat untuk menanggungnya. Amin.
Waktu adalah relatif. Setidaknya itulah teori
einstein yang kutahu. Waktu adalah tergantung orang yang memanfaatkan waktu
itu. Terasa lama bagi yang menunggu-nunggu. Terasa cepat bagi yang menikmati.
Tak terasa beberapa minggu berlalu, aku bersiap-siap melaksanakan plan B yang
sudah ku rencanakan jauh-jauh hari bila aku tidak lulus test ini. Aku tidak
akan putus asa, aku tidak akan menyesal, aku akan tetap bersemangat menuntut
ilmu walaupun di kampung halaman sendiri. Setidaknya aku masih bisa keliling dunia
dengan cara yang lain, dengan cara yang di tentukan Allah, bukan dengan cara
yang ditentukan manusia. Manusia hanya berusaha, Allah lah yang mengabulkan.
Koper pun sudah di pack. Aku sudah siap pulang ke kampung halaman bila namaku
tidak tertera dalam daftar. Aku pun sudah menghubungi seorang teman yang akan
mengurusi tiket kepulanganku nanti. Aku orang yang gagal untuk sementara waktu,
tapi lain waktu aku akan bangkit dan menunjukkan kepada dunia siapa aku
sebenarnya. Itulah tekadku. Tapi aku masih berharap banyak akan lulus, maka
setelah shalat dhuha aku bersama ahmad berangkat ke warnet untuk melihat hasil
pengumuman. Tiba-tiba di perjalanan aku teringat pengemis tua itu, seorang
nenek renta yang menggigil di sebuah gubuk di pinggir jalan saat hujan deras
mengguyur jakarta hampir sebulan lalu. Aku tiba-tiba teringat doa nenek itu
lalu tanpa sadar aku melamun.
Waktu itu selepas shalat dhuhur. masih saja seperti ini tiap harinya, gerutuku dalam hati. Bengong dan melamun sudah
seperti sahabat karib. Bedanya adalah hari pendaftaran masuk kampus lipia sudah
di umumkan, yaitu mendekati akhir bulan setelah liburan semester genap. Waktu- waku itu pun aku
mulai banyak shalat tahajjud dan puasa senin kamis. Aku berharap allah mengabulkan doaku dan
memberiku anugerah semangat agar tetap istiqamah. Namun Hari-hari yang berlalu tak
semuanya ku isi dengan yang bermanfaat. Ada pula yang tak berguna, main-main dan refreshing. Setelah ashar aku berjalan
jalan sore di lingkungan sekitar kos, tanpa terasa aku telah berjalan terlalu
jauh sampai tiba tiba langit menjadi gelap dan mendung. Aku tersadar dan segera
berbalik arah, tapi sudah terlambat. Angin kencang berhembus sangat kencang
diikuti gemuruh hujan yang mendekat. Aku berlari mencari tempat berteduh namun
sialnya aku berlari di sekitar komplek perumahan berpagar tinggi. Tak ada satu
pun tempat berteduh yang kutemui, singkat kata setelah kelelahan berlari dan
baju basah kuyup. Barulah kutemukan sebuah gubuk kecil di ujung jalan, kulihat
seorang nenek meringkuk menggigil di pojok gubuk dengan selimut lusuhnya, di
depannya teronggok mangkuk berisi beberapa lembar ribuan. Rupanya nenek ini
seorang pengemis, aku menatapnya iba dan tanpa sadar aku meletakkan selembar
sepuluh ribuan ke atas mangkuk. Tiba- tiba Si nenek melotot seakan mendelik tak percaya, aku jadi ketakutan.
Kukira
nenek ini akan menyerangku dengan kuku kukunya yang tajam, hampir saja aku lari
jika tidak mendengar suara si nenek yang parau berterima kasih kepadaku.
Makasih nak, nenek sudah dua hari belum makan. Suara parau si nenek terdengar
bergetar. Hah, yang bener aja masa dua hari belum makan. Kalo aku sudah teler
bin kurus alias hampir mati. Kataku dalam hati. Si nenek beringsut ingin
menyentuh kakiku sambil terus mengucapkan terima kasih. Aku reflek menggeser
kakiku dan mengamit lengannya yang kurus. Tidak usah berterima kasih nek,
anggap saja ini rezeki dari Allah
untuk nenek. Kataku sambil mengeluarkan uang sepuluh
ribuan lagi dari kantongku, seketika jatuh lah air mata si nenek yang membuat
aku jadi khawatir si nenek akan struk sebab tangisannya yang ringkih. Sudahlah
nek, bersyukur saja kepada Allah
yang telah memberikan nenek rezeki ini. Kalo nenek ingin
berterima kasih padaku. Doakan saja aku biar diberi jalan terbaik buat
kesuksesanku. Kataku menatap si nenek yang ringkih dengan sungguh sungguh. Amin
jawab si nenek kontan, iya nak nenek doakan agar sukses selalu dan bisa
mendapatkan segala cita-cita yang nak dambakan walau pun itu keliling dunia. Aku
terkejut, bagaimana bisa nenek tua itu mengetahui cita-cita terpendamku itu,
tapi toh aku juga mengamininya tanpa banyak bicara. Tak terasa hujan yang
tadinya lebat sekarang sudah menjadi gerimis tipis. Aku pamit pada si nenek dan
langsung berlari ke luar gubuk menuju ke tempat kost ku. Dengan perasaan campur
aduk, beribu pertanyaan beradu di benakku. Aku tersadar dari lamunan setelah dicoel oleh ahmad, woy, jalan atau
ngelindur bro, katanya mencibir sambil terkikik.
Aku terkaget dan jadi malu sendiri ketika tanpa
sadar diriku sudah ada di teras rumah orang. Wajahku memerah karena malu,
berkali-kali aku meminta maaf kepada sang empunya rumah yang juga tersenyum
geli. Tapi doa nenek tua itu seakan benar-benar menyihir diriku, membuncahkan
kembali semangatku, aku masih ingat setelah itu aku makin rajin belajar dan
mengkaji ilmu. Seakan-akan Allah mengabulkan separuh doa nenek itu. Mungkinkah
kali ini doanya terijabah, kalo iya berarti nenek ini bukan orang sembarangan.
Mungkin juga orang sholeh yang menyamar atau… atau. Belum sempat aku
menyelesakan pikiranku. Hey bro, jangan ngelamun mulu, entar kesambet setan. Kata
ahmad seraya menarikku masuk kedalam warnet. Aku Cuma tersenyum kecut. Setelah
itu kami berdua langsung membuka situs yang melansir daftar nama-nama peserta
yang lulus dalam test beasiswa ke sudan kali ini. Aku dengan tak sabar
mengurutkan nama-nama yang tertera menggunakan jariku. Aku sampai kepada nama Ahmad
Husain al-faruqi, ya dia ahmad temanku, dia lulus. Ahmad pun berhasil dengan
suksesnya membuat seisi warnet menatap aneh kepadanya ketika ia melonjak
kegirangan. Aku pun terus mengurut ke bawah dan terus mencari namaku. Aku
tersigap ketika membaca satu nama, pikiranku langsung tertuju kepada doa nenek
tua itu, doa yang sangat membekas dalam diriku. Air mataku terasa menetes
karena haru, aku tahu doa itu sekarang terkabul, tiada kata yang terungkap
kecuali syukur yang mendalam. Aku membaca nama yang tertera di daftar itu…. Itu
namaku, yah benar itu namaku. NASIF AKBAR MULYADI.
The end
Comments
Post a Comment