Love Letter (2)
Dear my lovely!
Sering
aku duduk menyendiri tenggelam dalam lamunanku akan dirimu. Aku bukannya tidak
bertanya-tanya kenapa harus engkau yang berada dalam khayalku yang sempit itu.
Mengapa itu adalah engkau yang sering mengaburkan ayat-ayat tuhan yang kubaca.
Dzikirku pun seakan tak bermakna saat engkau tiba-tiba saja terbesit dalam
doa-doaku. Aku merasa berdosa ketika aku mengingatmu di saat sebenarnya aku
harus mengingat tuhanku, tapi aku juga merasa putus asa ketika menyadari bahwa
aku tak dapat menemukanmu dalam penglihatanku bahkan dalam mimpi-mimpiku
sekalipun.
Wahai
kekasih hati.
Aku
menyadari bahwa engkau yang kudambakan hanya sebatas bayang semu yang tak
mungkin kugambarkan. Dirimu pun hanya sebentuk perasaan hampa dalam jiwaku yang
haus akan rindu dari sang kekasih hati. Aku terus bermohon pada tuhan agar aku
dapat mereguk rindu itu, puaskan hasratku pada aroma yang semakin menggoda
jiwa. Aku tahu mungkin aku telah terjerembab dalam kenangan akan dirimu yang
masih berbentuk kabut dan aku pun tak tahu apakah rindu yang kuteguk itu adalah
rindu yang sebenarnya ataukah hanya campuran nestapa dan derita karena
merindukanmu.
Kosong
jiwaku mengingatmu, latah tulisanku karena menuliskanmu, bingung engkau juga
karena kebingunganku. Apakah doa-doa kita akan menyatu sehingga mustahil
menjadi mungkin serta tiada menjadi ada. Kuharap akan menjadi seperti itu duhai
kekasih yang menderai kalbuku dengan air dari tatapan lembut pesonamu.
Aku
pun tak tahu kapan akan bertemu denganmu dan kurasakan jarak menghimpit dan
waktu menjadi sedikit. Aku hanya bisa menulis kenangan dalan goresan pena
nelangsa yang juga dirasakan jutaan manusia di atas muka bumi ini. Kerinduan
pada sang kekasih dalam kabut seperti menerima hujan asam yang membakar
tubuhku.
Duhai
yang kusebutkan namanya dalam sepiku.
Jika
kukatakan sekali lagi pasti kau tak akan percaya. Engkau adalah mutiara dalam
jiwaku, penawar masinnya sepiku, pengobat nestapa hati yang tak kunjung sembuh
ini. Meski kabut menghalangi kita. aku akan kesana, menuju tempatmu bernaung
dalam suka.
Tapi
kupikir kau mungkin tak menghiraukan.
Jadi
kukirim sepotong hatiku padamu. Sebait tanda rasa dari diriku. Secuil
pembuktian perhatianku. Dan sebaris doa untukmu yang jauh di sana. Berharap
Tuhan hendak menjamin semuanya ketika nafasku melayang bersama dengan pucuk
surat ini.
Hamba
yang lemah.
Comments
Post a Comment