Arti Keindahan
Note Cherry Blossoms:
Kadang kita merasa bosan dengan pemandangan yg kita lihat.
Kita ingin pergi ke tempat dimana kita dapat melihat hal-hal baru. Itulah
sebabnya banyak orang senang berlibur, rekreasi, jalan-jalan, dan refreshing.
Kita ingin pergi ke suatu tempat dimana ada bunga, taman, pohong rindang,
bebukitan maupun pegunungan. Namun sayangnya sebentar saja kita memandang, kita
kembali merasa bosan dan ingin mencari
hal yang baru. Lalu karena itu kita rusak tempat kediaman kita, kita kotori ia
dengan sampah, kita semen ia dengan
gedung-gedung tinggi yang membuat sesak. Lalu kita tebang pepohonan itu
agar kita bisa merasa bosan dengan cepat. Lalu pergi ke tempat lain yang juga
telah dirusak keindahannya oleh orang lain yg sama sifatnya dengan kita.
Akhirnya, apa pun yang kita usahakan untuk lingkungan kita menjadi tidak
berarti.
Sebuah
negeri yang tidak mempunyai keindahan, akan sangat mengerti dan menghargai arti
keindahan. Sebuah negeri yang kering seperti Arab Saudi misalnya, sangat
mendambakan bisa memiliki taman-taman hijau segar nan indah. Sebaliknya sebuah
negeri yang sudah indah dari sononya, negeri yang hijau dari segala sisinya,
negeri yang tanahnya subur bagai menancap tongkat tumbuh tanaman. Negeri yang
katanya dulu gemah ripah loh jinawi penduduknya ternyata banyak yang
tidak peduli tentang keindahan itu sendiri. Setelah merusak alam, mereka tidak
cukup mampu untuk membuat keindahan yang serupa dengan alam itu sendiri. Dijajah
tiga setengah abad mungkin membuat bangsa yang penuh dengan keindahan ini
menjadi bangsa yang suka menyampah dan merusak. Kemiskinan yang tidak mampu
diatasi menjadikan orang tak lagi memikirkan kebersihan dan kerapihan. Malah
membuat resah orang yang melihatnya. Kebersihan sebagian dari iman ternyata tidak
lagi menjadi motto dan keyakinan dalam dada di negeri mayoritas umat Islam ini.
Kemerosotan
akhlak menjadikan pemuda-pemuda pengangguran dan pengemis di jalanan tidak lagi
pernah mandi dan tanpa sadar menajiskan dirinya sendiri. Orang-orang kaya yang
tamak tidak lagi memikirkan dan mempertimbangkan apakah membangun ini akan
merusak itu atau tidak. Bunga-bunga tak lagi menjadi simbol keindahan yang
mengagumkan bagi siapapun yang melihatnya. Ia hanya menjadi pajangan di
toko-toko bunga yang menjual keindahan bunga yang semu dan hampir layu itu. Tak
ada yang berniat menanamnya di tanah yang subur dan membuatnya menjadi sesuatu
yang menyejukkan. Orang sudah tidak perduli lagi dengan itu. Pohon ditebang di
sana sini dan membuat efek rumah kaca yang tiada terbendung lagi. Rumah dibuat
berdempet-dempat dengan saluran pembuangan yang mengarah ke sungai. Akhirnya
sungai itu menjadi kubangan kotor yang menjijikan.
Ini
semua juga disebabkan oleh kurangnya ilmu pengetahuan dan moral yang seharusnya
menjadi modal bagi manusia untuk berpikir. Modal yang seharusnya bisa
dipelajari sebagai alat kebijaksanaan dalam mengambil langkah yang indah dalam
hidup. Manusia di negeri ini sudah tidak mengetahui akan pentingnya ilmu yang
menjadi kunci dalam memelihara lingkungan tempat tinggalnya. Akhirnya bencana
yang di sebabkan oleh sampah-sampah yang memenuhi sungai itu membuat manusia
kalang kabut. Hujan sedikit saja pasti menyebabkan masalah yang serius bagi
rumah-rumah dan lingkungan mereka. Bila tak ada bencana, manusia kembali lupa
apa yang telah mereka perbuat dan sibuk mencari tempat-tempat yang indah untuk
berekreasi. Mengumpulkan uang sepanjang tahun hanya untuk dihabiskan beberapa
hari saja di tempat-tempat yang mereka sukai. Ironis memang akibat rasa bosan dan
bencana yang mereka ciptakan sendiri, manusia seperti tak punya hati nurani
lagi. Layaknya seseorang wanita tua bodoh yang menenun kain di malam hari dan
melepasnya lagi di siang hari. Tak berguna dan tak mempunyai faedah sama sekali,
hanya kerusakan yang didapati. Wallahu a’lam.
Comments
Post a Comment