SURAT CINTA
Love Letter
Dear My Lovely… Bidadariku!
Apa
kabarmu bidadariku?, apakah kau sehat disana? Aku tahu kau mungkin tak sampai
bisa membaca surat ini, tapi tetap saja surat ini kutulis untukmu, untuk
mengungkapkan perasaan hatiku padamu yang selama ini kusimpan rapat-rapat dalam
relung kalbuku yang paling dalam. Rasa yang yang kusimpan hanya untukmu yang
berada nun jauh disana. Mungkin kau akan bertanya-tanya mengapa aku melakukan
ini semua. Ini semua tidak lain karena kerinduanku yang sangat kepadamu, aku
ingin segera menemuimu dan mengucapkan salam abadi padamu.
Rembulan
malam tak cukup bagiku untuk melukiskan perangai akhlakmu yang menawan.
Kelembutan hatimu tak bisa disandingkan dengan kapas yang paling lembut
sekalipun. Cemerlangnya jiwamu tak dapat digantikan walau dengan berlian yang
paling indah di dunia. Ketaatan dan kesalehanmu membuat hatiku meleleh luluh
lantak. Dan itu pula yang membuatku tak pantas bersanding di sampingmu.
Kulihat
engkau tak lepas dari dzikir kepada rabbmu, shalat malam tak pernah kau
tinggalkan, dan rezeki yang kau dapat tak pernah kau simpan sendiri. Kau
berlaku baik pada sanak saudara, dan menyambung sillaturrahim. Kau isi akalmu
dengan ilmu sebanyak-banyaknya. Pikiranmu tak pernah lepas dari ilmu. Kata-kata
yang keluar dari bibirmu yang anggun itu tidak lain hanyalah kata-kata hikmah.
Kau hijabi dirimu dengan hijab takwa kepada Allah. Engkau menginginkan Allah
satu-satunya yang ada di hatimu.
Itulah
wahai Bidadariku, yang membuatku sangat terpesona olehmu. Apalah aku ini,
siapakah diriku ini yang berani menyatakan perasaanku yang bodoh ini kepadamu
yang sangat menginginkan kebaikan dan membenci keburukan maksiat. Aku tahu kau
tak pernah memandang remeh setiap orang yang kau tatap dengan matamu yang penuh
cahaya cemerlang itu. Aku tahu kau selalu menatap setiap orang terutama ayah
dan ibumu dengan tatapan kasih sayang yang besar. Jiwamu yang bersih membuatmu
selalu beramar makruf nahi munkar sesuai dengan kemampuanmu sebagai seorang
wanita yang lemah.
Wahai
Bidadari impianku!
Apakah
aku salah menilaimu? Apakah aku terlalu berlebihan dalam memandang? Apakah
segitu besarnya dosaku sehingga pandanganmu yang selalu tunduk itu berpaling
seakan kau menjauh dari hadapanku. Aku tahu aku tak bisa sehebat dirimu yang
mampu menahan setiap hawa nafsu dan mampu berkata benar dalam setiap langkahmu
yang menawan. Tidak bidadariku! Aku tidak melihatmu dengan pandangan lahir…
sebaliknya, aku melihatmu dengan pandangan batinku yang terbatas. Aku melihatmu
tidak dengan kacamata duniawi! Dan jika aku melihatmu dengan kacamata itu, aku
tentu sudah berpaling daripadamu. Tapi aku tidak berpaling, mengapa??? Karena
kau telah menyejukkan hatiku dengan akhlak, perangai dan sikapmu yang cemerlang
itu.
Bidadariku!
Aku
memang tidak seharusnya mengotori hatimu yang jernih dengan sampah kerinduanku
ini padamu. Aku pun tak seharusnya berada dihadapanmu dan mencoba mengais
sedikit perhatianmu. Aku mengakui bahwa aku tak pantas bersanding denganmu, kau
bahkan terlalu baik bagiku. Kebaikanmu tak sepantasnya kau sia-siakan sekalipun
hanya untuk menoleh kepadaku. Kau memang berhak untuk yang lebih baik dariku.
Tapi
Bidadariku….
Apakah
tak pantas pula aku mendapatkan yang lebih baik, apakah aku tak dapat pula
berbahagia dengan mengharapkan kehadiran bidadari sepertimu dalam kehidupanku. Wahai
rembulan yang bersemi di hatiku, maafkan aku, mungkin saatnya aku sudahi
harapanku yang kutulis dalam secarik surat ini. Aku tak tahu kau akan
membacanya atau tidak. Tapi bidadariku!!! Aku sedang mencoba…. Aku sedang
mencoba…. Mencintaimu karena Allah. Kuharap kau juga seperti itu, karena bila
doa-doa kita bersatu, maka tak ada yang mustahil. Biarkanlah Allah tuhan kita
yang menjamin semuanya.
Salam
rinduku
Hamba
yang lemah
Comments
Post a Comment