Surat Sahabat


Chapter I
For: Lulu
Aku bertemu dirimu sewaktu aku masih sangat ingusan. Masih terlalu kecil ketika itu saat kulihat kamu berlari kearahku dengan centilnya, bermain, berlarian dan bersenda gurau sambil kamu memeletkan lidah kearahku yang juga bersikap sama. Ya kamu seumuran denganku, kita masuk sekolah terlalu cepat sehingga hanya kamu dan aku yang paling muda diantara anak-anak yang lain. Aku masih kelas empat SD ketika itu dan kamu sekelas denganku. Ah, hal-hal yang biasa terjadi begitu saja tanpa aku dapat merasakannya sebagai hal yang spesial. Aku masih terlalu polos ketika itu dan belum mengetahui apa pun. Aku bagaikan kertas putih yang sama sekali belum ternoda, yang kuingat hanyalah kamu begitu saja menjadi temanku saat aku baru masuk ke kelasmu sebagai murid pindahan dan duduk disamping tempat dudukmu. Aku hanya ingat saat-saat kita bermain layaknya anak-anak lain di lapangan mungil didepan sekolah kita tercinta. Bermain kasti, lompat tali, enggo sembunyi, kejar-kejaran atau apalah namanya, yah aku hanya ingat itu. Aku tak merasakan apapun selain persahabat yang manis dan harumnya canda tawa yang menghiasi masa-masa kecil kita di sekolah.

“Namaku Alif” kataku polos dengan suara cadel. Tanganku lurus kedepan dengan canggung hendak bersalaman. “Lulu” balasmu tak kalah polosnya dengan suara imut yang menggemaskan. Tanganmu juga terulur kearahku, namun bukan salaman yang kudapat. Kamu tiba-tiba menarik tanganku dengan centil dan mengajakku berlarian dibawah pohon mangga itu. Kamu pun mengajakku bercanda seolah-olah kamu ingin ditangkap olehku dan aku harus dan bersusah payah menggapai dirimu yang lincah dan gesit itu. Beberapa lama, aku pun kelelahan dan kamu masih terus saja berlari sambil mengejek. Aku masih belum bisa menangkapmu, kamu terlalu gesit buatku yang mudah capek. “Aahh curaaangg, uda cape ni lulu, udahan ah” kataku ngambek. Aku pun langsung saja duduk selonjoran dibawah pohon itu. Kamu mendekat dengan jempol teracung kebawah “payah” isyaratmu, tapi kamu tetap diam hingga kamu duduk di sebelahku. Masih tetap diam, lagakmu membuatku risih. Kamu seperti orang dewasa saja melihatku dengan tatapan seperti itu. Dalam hati kupinta “Tolonglah, singkirkan tatapan dewasamu dan kembalilah ke usia kecilmu itu.” Kamu lalu tersenyum centil dan mengolesi wajahku dengan tanah. Oww, rupanya kamu jail juga, kali ini aku pasti menangkapmu. Akhirnya kita berkejar-kejaran lagi dengan riangnya.
Begitulah awalnya seingatku bagaimana kita menjadi dekat. Kamu cerewet, ceplas-ceplos dan suka bicara sedangkan aku agak pendiam. Hanya bisa berbicara jika waktunya tepat dan juga agak pemalu. Aku sering diledekin teman yang lain bila bermain denganmu. Aku tak paham mengapa setiap kali aku bersamamu mereka selalu bersiul-siulan tidak jelas seperti itu. Tapi aku tak perduli, aku juga bermain dengan mereka seperti aku bermain denganmu. Namun kelihatannya kamu yang paling dekat denganku. Tak hanya periang, kamu pun sangat pintar dan sering mendapat juara di kelas.
Lulu, bagaimana kabarmu disana? apakah kamu baik-baik saja?. Aku masih teringat masa-masa persahabatan kecil kita yang riang itu. Bahkan sepulang sekolah, kita lanjutkan lagi permainan kita yang tertunda di sekolah. Biasanya sih, kamu pamit pulang dulu utuk makan dan ganti baju. Sedangkan aku tidak lantaran bandelnya, aku tidak langsung pulang ke rumah. Kadang kala aku bersama beberapa teman sengaja bersembunyi di semak-semak dekat dengan rumahmu hanya untuk menunggumu keluar dan kalau sudah kelamaan biasanya kami semua keluar dan memanggil namamu dengan keras. Luluuu…. Luluuu… maen yuuu!!!! teriakku dulu dengan penuh semangat. Oh iya kamu pun sedikit agak tomboy karena sering bermain dengan anak laki-laki. Larimu memang kencang dan kamu juga pandai bermain sepak bola. Karena itu lah kami selalu mengajakmu bermain. Tentu aku pun senang karena kamu juga temanku yang paling dekat daripada yang lain.
Kadang pula jika teman yang lain tidak ada yang mau bermain. Aku pun menyempatkan diri datang ke rumahmu untuk sekadar menyapamu dan orang tuamu. Bapak dan ibumu sangat baik. Ketika aku datang, mereka membiarkanmu dan aku bermain di halaman atau di teras rumah. Mungkin mereka melihat aku anak yang baik dan sopan sehingga tidak khawatir sama sekali. Kamu dan aku sering tertawa bareng saat melakukan hal-hal konyol yang hanya kita berdua yang memahami. kadang kamu bercerita dengan gaya kanak-kanakmu yang khas tentang banyak hal, dan aku pun mendengarkan. Kau tahu Lulu, dari dulu aku suka sekali mendengarkanmu bercerita. Kamu pintar sekali merangkai kata. Dan cerita-ceritamu itu walau pun sangat imajinatif, tetap saja menarik dan kadang- kandang lucu. Kupikir kamu kelak akan menjadi seorang penulis atau semacamnya.
Namun sekarang kamu ada di sana, jauh dari mataku. Kita sekarang telah dewasa dan menjalani hidup masing-masing. Tapi kuharap engkau jangan melupakan aku dan kenangan tentang persahabatan kita dahulu. Namun walaupun kamu telah lupa, itu tidaklah menyakitiku karena kamu tetap sahabat terbaikku. Kamu tetap menjadi Lulu seperti Lulu yang ku kenal dahulu. Mudah-mudahan kamu lebih baik di sana, menjadi orang yang berguna ketika kamu kembali kemari. Kuharap aku mendapati Lulu ku kembali dan kita dapat bercengkrama kembali. Aku tak tahu, mungkin aku pun sudah mempunyai satu perasaan istimewa untukmu.

Salam
Sahabatmu Alif

Comments

Popular Posts