CURHATAN



Cerita dalam tulisan ini hanya fiktif belaka dan tidak mengandung kenyataan apa-apa.
Pusing aku berfikir tentang berbagai hal hari ini, tentang bangsaku yang carut marut, tentang ibu kotaku yang tidak teratur, tentang negaraku yang terbelakang. Apa yang harus aku perbuat dengan semua ini. Padahal mengurus diriku saja aku belum bisa dan sebagai anak bangsa yang diharapkan dapat membawa perubahan tidak banyak yang bisa kulakukan untuk mengubah apapun. Yang dapat kulakukan saat ini hanyalah ber-ide dalam hati tanpa bisa menuangkannya kedalam catatan apapun. Aku kesulitan untuk menulis, itulah problemku saat ini. Disatu sisi aku ingin sekali menuangkan pikiranku yang meluap-luap ini kedalam bentuk tulisan tapi disisi yang lain aku merasa tidak berdaya. Seperti ada yang mengganjal dalam pikiranku, ada sekat dalam otakku yang menghambat kemajuanku dalam berfikir. Hasilnya sungguh mengecewakan, logika dan cara berfikir yang benar tidak aku kuasai sepenuhnya. Berkali-kali aku mencoba menulis, berulang kali pula gagal dalam menyusun kerangka urutan dan bahasa yang benar. Caraku menulis sungguh menyedihkan, mungkin tak ada seorang pun yang bisa memahaminya.
Kembali lagi ke diriku yang sedang dilanda begitu banyak pikiran dan kegalauan. Ketidak mampuanku dalam merangkai kata membuatku hampir frustasi dengan hiruk pikuk ini. Kucoba membaca buku apapun yang kutemukan namun tidak ada satu pun yang menarik hatiku untuk membaca secara serius. Sepertinya aku punya masalah dengan penalaran dan pemahaman. Inspirasi-inspirasi yang datang ke pikiranku kebanyakan berasal dari penglihatan dan pendengaranku saja akan kejadian-kejadian disekitarku tapi itu pun tidak banyak membantu dalam memecahkan problemku yang sangat rumit ini.
Aku punya banyak teman-teman disekitarku saat ini, sahabat-sahabat yang siap menolong setiap saat, sahabat yang dapat mencairkan rasa beku dalam hatiku. Lalu apa masalahnya. Kenapa kegalauan itu terus tumbuh didalam dada, baiklah akan kuceritakan sedikit tentang kisah masa lalu yang aku pendam sekian tahun lamanya.
Aku adalah seorang anak berumur sepuluh tahun yang menurut takdir akan tumbuh di lingkungan keagamaan yang ketat dan menjunjung tinggi nilai religiusitas dan kebersamaan. Masyarakat keagamaan ini sebenarnya bukan masyarakat yang sebenarnya tapi adalah sebuah masyarakat simulasi yang sengaja dibuat oleh lembaga pondok pesantren untuk mendidik para santrinya untuk hidup bermasyarakat. Dilingkungan inilah aku tumbuh dan berkembang dengan bimbingan dari para guru dan kiai. Kebersamaan dan ukhuwwah sangat dijaga disini, namun ada sedikit perbedaan denganku di usia yang begitu belia. Aku ternyata tidak begitu pandai bergaul yang kusadari baru belakangan ini. Aku anak yang meluap-luap, nakal dan kadang menjengkelkan. Tapi bukan berarti teman-teman yang ada bersamaku waktu itu tidak sama denganku. Tidak, mereka sama saja bahkan lebih parah dariku. Kami sama-sama tidak tahu bagaimana cara menjalin suatu kebersamaan dalam masyarakat simulasi ini. Tapi dengan kebiasaan dan sifatku yang berlainan dengan mereka, lambat laun aku menjadi tersisih dan terpinggirkan. Para teman-teman semu ini terus saja memperlihatkan rasa tidak suka mereka kepadaku dan terkadang melancarkan serangan-serangan terhadap diriku.
Hasilnya aku menjadi tidak betah di komunitas yang semakin hari semakin membuatku terpojok dalam kesedihan mendalam karena merasa terkucilkan ini. Aku semakin tidak terkendali, sering membangkang guru dan bertengkar dengan sesama teman. Tidak ada yang mau mengerti bagaimana perasaanku yang sebenarnya. Tidak ada seorang pun yang dapat dijadikan tempat curahan hati bagiku, mungkin ini dikarenakan aku yang masih belum terlalu dewasa untuk mengerti bahwa kegundahan itu harus diluapkan atau diceritakan kepada seseorang yang kita percaya. Aku mengalami semacam krisis mental. Satu-satunya yang menjadi kebanggaanku adalah bahwa pelajaranku sama sekali tidak tersentuh oleh kondisi kejiwaanku ini. Aku selalu saja mendapat nilai yang memuaskan dalam setiap ujian. meskipun aku bukan yang terbaik di kelas tentunya. Tapi nilai-nilaiku ini cukup ampuh mengecoh guru-guru dan orang tuaku bahwa aku baik-baik saja di komunitas ini. Ini malahan membuatku semakin sedih, goyah dan tanpa pegangan. Bukannya menceritakan masalah yang menimpaku ini Aku malah terus saja diam dan mencoba terus bersabar dalam menghadapi ini semua. Akhirnya terjadilah semacam trauma dalam diriku jika bergaul dengan orang lain, perasaan takut salah berkata dan dibenci semakin kuat terpeta dalam otakku.
Ini terbukti setelah tahun-tahun yang menyengsarakan itu, hubungan pertemananku dengan orang lain tak jarang berakhir dengan tragis. Aku menjadi pribadi yang buruk di mata orang lain. Tentu saja kejadian-kejadian ini membuatku seringkali memilih-milih teman dan membatasi diri dalam bergaul. Tak jarang pula teman yang kuanggap paling dekat sekalipun menjauhi aku disebabkan oleh sifat burukku ini. Dan sekarang, setelah aku mendapatkan banyak teman-teman yang penuh pengertian pada diriku. Dalam diriku masih saja terdapat perasaan was-was dan rasa takut akan kehilangan teman lagi untuk yang kesekian kalinya.
Aku pun mulai menyadari, bahwa pada tahun-tahun yang menyedihkan itu. Aku berada pada di tempat yang benar tapi pada posisi yang salah. Semua serba salah bagiku yang selalu disalah-salahkan, dibenci dan di hina. Hanya kesabaranku lah yang menemaniku selama itu, yang membuatku selalu berharap akan datang suatu hari dimana aku tidak harus merasa takut lagi untuk berteman dan menjalin persahabatan. Aku tidak perlu merasa tertekan dengan masalah-masalahku yang semakin menumpuk. Namun bagiku itu semacam utopia yang entah kapan akan menghampiri hidupku.
…….
Ciputat,
                                                                                                                                                                                                  26. 05. 2012

Comments

Popular Posts