HIKAYATUNA...
SEBUAH CATATAN
Oleh: Nasif Akbar Mulyadi
Hari yang sepi… hanya sepi dan sepi yang menggerogoti jiwaku saat ini. Hanya berbaring seharian ditempat ini membuatku serasa remuk, aku sendiri tanpa teman yang menemani ataupun kekasih hati pelipur lara yang menghujan dalam diriku saat ini.
Aneh, serasa tak punya tubuh saja aku ini, bahkan ruh pun sama sekali hilang dalam diriku. Aku mencoba bangkit dari pembaringan, menggapai apa saja yang dapat aku gapai untuk dapat bangkit. Selalu saja perasaan ini yang membuatku serasa terpuruk, mati rasa dan ngilu. Aku berdiri, menatap tembok kosong didepanku yang seakan-akan menatapku penuh keprihatinan. Beginilah nasibku diperantauan, jangankan ingin mengeluh, mengeluarkan perasaan hati ini saja aku sudah tak mampu lagi. Kepada siapa… tak ada orang yang peduli kepadaku. Aku tak tahan ingin keluar dari ini semua, aku benci terhadap diriku yang lemah menanggung nasib saat ini. Sangat memuakkan, sangat menjemukan. Ini membuatku malas menjalani kehidupanku sebagai seorang mahasiswa yang haus akan ilmu pengetahuan. Yang sebenarnya telah menjadi suatu keharusan dan tujuan bagi seorang penuntut ilmu untuk tidak berleha-leha ditempatnya karena suatu alasan yang tidak dapat dibaca oleh nalar.
Malas adalah kata yang anggun saat diucapkan oleh seorang yang sangat amoral, bejat dan berhidung belang. Tapi apa dayaku saat mengucapkan kata itu dengan suara sedih dan serak. Itu Sama sekali tidak anggun dan indah. Aku tentu bukan seorang yang bejat, amoral apalagi berhidung belang, namun saat ini aku sangat menyerupai orang-orang laknat itu dalam sisi yang sangat berbeda. Mahasiswa pengangguran yang tidak bisa memanfaatkan waktu kosong dengan sebaik-baiknya adalah bencana bagi diri, keluarga dan bangsanya. Seperti kata orang bijak, Sesungguhnya masa muda dan waktu kosong adalah perusak bagi seseorang. Aku kembali terpekur diatas kasur busa yang empuk ini, memandangi ponselku yang tak jua berdering pertanda sepi yang bertumpuk-tumpuk. Tiba-tiba perutku lapar dan aku butuh sesuatu untuk dimakan. Tapi sekali lagi rasa malas yang laknat itu kembali menghantuiku dan membuatku tak sadar kembali ke pembaringan.
Ponselku berbunyi dengan berisik ketika kepalaku kubenamkan dalam bantal, mencoba mengusir kabut hitam dalam otak dan gerimis dalam hati. Tapi kenapa aku terganggu, bukankah aku tadi melihat ponsel dan berharap ponsel itu segera berdering. Sekali lagi rasa malas itu memang mirip sebotol racun yang sangat mematikan, setidaknya berbeda tipis dengan kata perusak itu. Ponselku semakin nyaring saja bunyinya, memenuhi pojok-pojok kamar yang menjadi sarang kecoak dan langit-langit tempat pertapaan sang cecak, sampai-sampai kecoak dan cecak itu pun berhamburan keluar karena terganggu. Lalu mereka menatap garang kepadaku agar segera menjawab panggilan itu. Kata mereka, mereka terganggu karena lagi asyik menonton bola. Edan pikirku.
Halo?? Assalamualaikum… kataku membuka pembicaraan.
Waalaikum salam… kata seseorang diujung sana. Suara seorang kawan yang sudah lama tak berjumpa karena sesuatu kesibukan. Aku tersenyum dan menjawab.
Owh, Mas hariri… apa kabar Mas.
Baik, Aku sedang senggang hari ini Sif… bisa kau main ketempatku??? Udah lama ya tidak jumpa, Katanya lagi.
Iya Mas.. sudah lama… boleh! Dimana tempatnya??? Ia lalu menyebutkan tempat dimana ia ngontrak saat ini dan kebetulan cukup dekat dengan tempatku sekarang.
Iya Mas, kebetulan lagi tidak ada kerjaan nih.. okelah, aku segera kesana. Lalu setelah berbasa-basi sebentar dengan joke-joke picisan, murahan dan tidak laku yang tidak perlu dituliskan disini, maka dengan satu suara Klik sambungan pun diputus.
Maka mulailah aku memanasi mesin motorku yang sengaja aku biarkan tak dikeluarkan karena malas itu. Kawanku itu, namanya Hariri, biasa kupanggil Mas hariri karena sedikit lebih tua dariku. Kisahku berkawan dengan orang yang satu ini agak sedikit unik karena tak disengaja, yaitu ketika kami sama-sama ingin mendaftar disebuah perguruan tinggi yang mempunyai seleksi ketat yang tak terbilang. Karena perguruan ini menerapkan beasiswa bagi calon mahasiswa yang diterima belajar. Waktu itu Mas hariri bertandang ke kosanku akibat diajak oleh seorang kawan yang juga aku kenal. Mulailah kami saling mengenal satu sama lain, saling berbincang dan bertukar pengalaman. Ia berasal dari sumatera dan aku berasal dari sulawesi. Sebuah jarak yang aneh tak memisahkan perkawanan kami berdua yang kian hari kian dekat. Namun hal itu harus terputus ketika ia diterima sebagai mahasiwa dan aku tidak. Aku sedih bukan kepalang dan mencoba mendaftar disalah satu perguruan tinggi negeri dan segera diterima menjadi mahasiswa. Jadilah aku tak bertegur sapa untuk sekian lama.
Setelah pemanasan mesin selesai aku segera melaju ketempatnya, satu hal yang baru bisa dilakukan setelah berbulan-bulan dililit kesibukan parah yang menurut sebagian orang hanya karena aku dianggap lebay dan terlalu melebih-lebihkan masalah. Padahal yang sebenarnya adalah… Rasa malas yang berjumpal-jumpal itu mengancamku untuk tidak melakukan apa-apa, Sadis memang. Humm… aku berpikir mungkin Mas Hariri sekarang sedang berjaya dengan kuliahnya, kulihat ia adalah seorang yang cerdas dan pintar. Menurut kabar terakhir yang kudengar ia mendapatkan predikat cum laude dalam bahasa inggris atau mumtaz dalam bahasa arab pada semester pertamanya. Satu hal yang sulit kulakukan dengan rasa malasku ini. IP ku sangat tak seberapa dikampus, yang bahkan mencapai angka 3 pun tidak.
Motorku berbelok disamping pom bensin yang ramai pengunjung, memasuki gang sempit yang sering disebut-sebut sebagai jalan tikus atau gorong-gorong. Berkelok-kelok tiada henti, melewati sungai yang kotor tiada ampun. Tempat tikus membuka spa-spa dan massage beraroma terapi. Seram dan Sangat mematikan. Berkali-kali aku berhenti menanyakan melalui sms kepada Mas Hariri lokasi tempatnya tinggal. Akhirnya Mas hariri pun keluar menemuiku yang hampir kesasar diujung gang. Ia setengah berlari menemuiku, kami pun bersalaman dengan erat. Saling menanyakan kabar, dan situasi terakhir masing-masing. Kami berbicara layaknya dulu waktu pertama kali bertemu. Sambil berjalan menuju kosannya yang sederhana. Kutatap matanya, kulihat ada sesuatu yang berbeda dari dirinya. Sesuatu yang ia sembunyikan dariku, sesuatu yang membuat cahaya dalam matanya sedikit meredup, kutanyakan sebabnya. Ia menunduk dalam-dalam. “Awak sudah tidak kuliah disana lagi kawan.” katanya lesu. Mataku membelalak kaget, aku tak percaya. “Kenapa Mas, kenapa Mas hariri bisa tidak kuliah lagi”. Lanjutku gusar. Mulutku ternganga tak tahu mau berkata apa, ketika tahu-tahu Mas Hariri mengambil sesuatu dari kotak box disamping meja belajarnya. “Inilah kawan, masa depanku.” katanya sambil menunjukkan kepadaku sebilah pena yang dibuat dari kayu khusus untuk kaligrafi dan juga sekaleng tinta cina yang diberi bergulung-gulung benang jahit didalamnya untuk menghemat penggunaan. Aku terdiam sekian lama, mencoba menerka apa yang terjadi padanya. Mas Hariri seperti paham kegusaranku saat ini. “Biaya kawan, ini masalah biaya. Awak tak sanggup lagi kalau harus kuliah disana.” Katanya menerawang. Akupun tidak habis pikir, kusanggah perkataannya.
“Kan disana gratis Mas, mengapa Mas keluar secepat ini, apa tidak menunggu sampai selesai semester depan. Sabarlah Mas, sedikit lagi.” Kataku tersengal-sengal, aku seperti tak percaya Mas hariri yang kukenal dulu adalah seorang yang memiliki semangat yang tinggi untuk kuliah, ia berapi api ingin masuk kuliah demi membanggakan kedua orang tuanya nun jauh di sumatera, tapi sekarang kulihat semangatnya sudah tidak seperti dulu lagi. Ia hanya menimang-nimang pena kaligrafinya seperti menimang anaknya sendiri, sangat sayang. Seperti katanya tadi itu adalah masa depannya, kutahu Mas Hariri adalah seorang yang mahir dalam bidang kaligrafi. Tulisan-tulisan Khot nya sudah tidak diragukan lagi, itu terbukti dari karya-karyanya yang memenuhi setiap pojok dinding kamarnya, karya yang indah.
Mas Hariri membetulkan letak duduknya. Ia berkata. “Nasif, awak sudah tak bisa lagi berlama-lama disana. Kiriman dari kampung sudah menipis kawan, tak cukup lagi untuk memenuhi kebutuhan hidup disini. Apalagi awak sudah tidak tinggal di asrama lagi, harus bayar biaya kos pula. Mana kuat awak ini.” Aku menatapnya prihatin, tak kusangka sahabat-sahabatku punya masalah seperti ini. Lalu apa yang terjadi padaku sekarang ini, aku merasa lebih rendah daripadanya sepuluh tingkatan. Aku merasa lebih hina lagi ketika aku sadar bahwa aku disini hidup serba berkecukupan. Kiriman dari orang tua mengalir terus, tinggal ditempa yang nyaman dengan fasilitas yang lumayan. Punya motor sehingga kemana-mana pun tak sulit. Ada laptop yang membantuku mengerjakan tugas-tugas kuliah. Tapi sampai sekarang hidupku terasa sulit dipisahkan dari rasa malas, rasa yang paling memuakkan dan tak bisa kuhindari. Hidupku hanya untuk bersantai-santai saja disini. Kutatap Mas Hariri, kutatap matanya yang teguh, kutahu ia harus bertahan untuk tetap eksis didunia pendidikannya. Tapi untuk keluar dari keadaannya saat ini sulit untuk kunalar dengan akalku sekarang. “Apa tidak ada jalan keluar lain Mas” aku mencoba membuatnya berpikir sekali lagi. “Mas kan bisa minta bantuan dari kerabat mas minimal untuk selesai pada semester ini mas, lalu mas bisa ambil cuti. Sayang tinggal beberapa bulan lagi.” Lanjutku serius, kutatap matanya yang seolah kehilangan cahaya sedikit demi sedikit itu.
Tak kuduga Ia menghindari tatapanku, sepertinya ia malu berbicara denganku tentang masalah pribadinya. Mungkin ia agak sedikit menyesal, seharusnya aku tidak boleh tahu tentang masalah yang menimpanya. Mungkin, tebak ku lagi. Ia saat ini sangat membutuhkan teman curhat untuk mengobati luka hatinya, dan meringankan beban beratnya selama ini. “Iya Nasif, awak mungkin perlu minta bantuan dari kerabat awak, atau mungkin awak ingin bisa masuk asrama lagi agar awak bisa fokus kuliah.” Mas hariri menarik nafas sejenak. “Tapi kalau memang tidak bisa, awak ingin fokus belajar kaligrafi untuk meningkatkan kualitas khot awak ni.” Lanjutnya sambil menatap pena khot dalam genggamannya. Aku tersenyum, setidaknya masih ada harapan untuknya untuk melanjutkan kuliah. Aku sadar, dalam menuntut ilmu dibutuhkan sejumlah harapan-harapan untuk menangkal berbagai macam bentuk luka hati dan jiwa. Kekurangan rezeki dan menghamburnya rasa malas.
Satu kata orang bijak, katanya: Sabarlah wahai penuntut ilmu, atas apa yang menimpamu dari kelelahan dan kekurangan rezeki. Kata-kata itu benar adanya, dan sangat menginspirasi saat ini. Kulihat Mas hariri mulai menampakkan semangatnya kembali. “Hei Nasif, mari kau kuajari tulisan khot yang indah ini, karena tulisanmu serasa kurang sedap dipandang, awak sejak dulu memang tidak suka gaya tulisan kau tu yang makin lama makin mirip cakar bebek saja” Aku menggerutu diejeknya, tapi aku senang hari ini bisa mendapatkan pelajaran berharga dari Mas hariri, yaitu semangat dan eksistensinya dalam melakukan sesuatu meskipun selama ini sepertinya sangat tertekan dalam hidupnya dan kekurangan, tapi ia terus berusaha dan bekerja maksimal. Berbanding terbalik dengan aku yang hanya berbaring disudut kamar seharian tanpa mendapatkan apa-apa. Terima kasih Mas hariri, atas pelajaran dan semangat yang kudapatkan hari ini.
good
ReplyDeletekeren bro.... teus berkarya....
ReplyDelete