HIKAYAT


TANAH HARAPAN

Oleh: Nasif Akbar

Angin laut berhembus dari barat menerpa wajah tirus andi mappajo, seorang nelayan tua dari suku bugis di pesisir pantai buton. Hidup nelayan tua ini amatlah susah, apalagi minggu2 ini ikan semakin jarang di temui berkelompok di tempat yang biasa dilaluinya ketika mencari ikan. Mappajo tahu kapal kapal kesultanan buton beberapa hari lagi akan segera menuju ke Makassar, mereka memanfaatkan angin timur untuk segera berlayar ke barat, menuju tempat kelahirannya, Makassar.
Mappajo kembali mendesah, ia sudah terlalu tua untuk hidup di buton, apalagi disini ia sebatang kara, ia ingin sebelum akhir hayatnya, melihat kampung halamannya walau hanya sedetik saja. Anak laki lakinya, izzuddin mappajo, beberapa bulan yang lalu di tangkap pasukan kasultanan buton karena dianggap memberontak dan di pancung didepan umum, alangkah miris hati mappajo karena itu. Tidak ada yang tahu siapa ayahnya, karena itu ia selamat dari kejaran prajurit kesultanan. Mappajo pun jarang kemana mana kecuali di pantai atau ke pasar untuk menjual hasil tangkapannya. Kini mappajo hanya bisa merenung dan meratapi kehilangan putra kesayangannya. Di tambah lagi tangkapannya pun ikut berkurang akhir akhir ini. ia semakin bersusah hati. Ia mengambil segenggam pasir lalu melemparkannya ke tengah laut, di Makassar keluarganya banyak, ia putus kontak dengan mereka karena selalu dimata matai mata2 kerajaan. Mappajo mendesah panjang, satu satunya jalan adalah memanfaatkan kapal2 kasultanan untuk ikut serta menuju ke Makassar. Dilihatnya teman2 nelayannya yang sedang menikmati istirahat pagi mereka, mereka orang orang susah, tapi masih bisa bahagia dengan istri dan anak2 mereka. Sedangkan dia… kebahagiaannya sekarang ini hanyalah agar dapat kembali kekampung halaman dan bertemu dengan kerabat dan sanak saudaranya. Mappajo merunduk memperhatikan hasil tangkapannya yang sedikit, yang hanya bisa untuk makan malam dan sedikit uang. Sedikit uang, pikir mappajo. Bagaimana ia bisa pergi ke Makassar dengan uang yang sedikit itu, kenapa tidak terpikir dari dulu untuk menabung uangnya untuk momen yang satu ini. diam2 mappajo menyesal berlayar ke buton enam tahun yang lau bersama istri dan anak semata wayangnya, ketika itu ia masih menjadi saudagar yang kaya dan makmur di kerajaan gowa. Pelayarannya ke buton untuk berdagang ternyata menjadi petaka baginya dan keluarganya. Ia di tuduh menyelundupkan barang dan senjata untuk pemberontak di negeri itu, ada orang yang menjebaknya. Ia kedapatan membawa berbagai jenis senjata yang memang di selundupkan ke dalam kapal, tanpa sepengetahuannya. Barang dagangannya pun disita bersama kapal pinisi kesayangannya itu. Ia pun tak bisa kembali ke Makassar karena terus di awasi. Mappajo pun hidup terlunta lunta selama beberapa bulan sampai akhirnya istrinya meninggal karena wabah penyakit yang sangat mematikan melanda negeri itu. Tinggallah mappajo bersama anak semata wayangnya, izzuddin dalam kemiskinan dan kefakiran. Izzuddin, anak yang bebakti kepada orang tua, selalu membantu ayahnya mencari nafkah, selalu menguatkan hati mappajo hingga mampu bertahan sampai sekarang. Namun penyesalan selalu datang di akhir. Kini anaknya telah pergi, tumpuan harapan masa depannya telah musnah, mappajo telah sendiri ditanah yang sangat asing baginya. Mappajo bangkit dari tempatnya, ia menarik perahunya lebih jauh ke pantai agar tidak terseret ombak. Sementara ia menarik perahu, seseorang berlari terengah engah berteriak memanggil namanya.
Daeng,,,, daeng mappajo, ada berita. Orang itu menunduk sambil mengatur nafasnya, mappajo berbalik menatap orang itu sebentar lalu berkata. Ada apa malik. Begini daeng, pasukan keamanan sudah mencium keberadaan daeng mappajo disini. Mappajo tercenung, ia tahu anaknya terlibat pemberontakan melawan sultan buton yang baru naik tahta, dan dihukum pancung karenanya. Kini mereka mulai mengincarnya hanya karena ia ayah dari pemberontak. Dengan mantap mappajo menegakkan tubuhnya. Apa kau mau menemaniku malik. Anak muda itu terkaget, kemana daeng. Lalu mappajo menyampaikan maksudnya untuk berlayar ke Makassar dengan kapal yang akan berangkat dua hari lagi. Malik terdiam beberapa saat, ia kelihatan berpikir keras. Mappajo memperhatikan raut wajah pemuda ini, yang dulu pernah membantunya dan izzuddin ketika masih terkatung katung di tanah buton. Malik pula lah yg menjadi teman baik anaknya sampai hari terakhirnya di tiang pancung. Bahkan malik yang menguburkan izzuddin ketika mappajo harus menghindar dari kejaran mata2 kesultanan. Akhirnya mappajo memahami perasaan anak muda ini. baiklah malik, aku akan pergi sendiri. Katanya tegas. Malik tergagap, tap tapi daeng. Mappajo langsung memotong perkataan malik dan menyampaikan, dan mengatakan bahwa ia cukup membantunya saja menyusup ke dalam kapal yang akan berangkat itu. Malik akhirnya mengangguk meskipun dengan perasaan enggan.
Pagi itu cerah, mappajo keluar dari rumah panggungnya engan sikap tak biasa, ia mencari keberadaan prajurit mata mata yang mengintainya. Berkali kali ia menengok ke arah jalanan. Malik belum datang menjemputnya. Setelah memastikan tidak ada yang mengintainya ia pun turun ke jalan dengan menyelinap ke balik pepohonan. Ia ingin semua berjalan lancar sesuai rencana. Tiba2 dari kejauhan terdengar derap kaki kuda mendekati rumah mappajo, mulanya mappajo terkaget karena dikiranya itu adalah prajurit kesultanan, namun ia lega karena malik lah yang datang. Ayo cepat daeng, kita pergi teriaknya dari atas kuda. Serta merta mappajo melompat ke atas punggung kuda, lalu berderap menjauh seakan meninggalkan semua kenangan atas tanah ini. setiba di dermaga, tiga kapal pinisi lengkap dengan barang muatan sudah siap angkat jangkar. Sedangkan kapal keempat yang berisi peralatan perang telah melaut lebih dulu. Mappajo sudah melihat kapal tempur itu sebelumnya. Kapal itu lah yang mencegatnya ketika pertama kali datang ke buton. Bagaimana caranya malik, bisik mappajo ketika mereka melewati pos pemeriksaan barang. Daeng tenang saja, biar saya yang urus. Katanya seraya melompat dari punggung kuda lalu berbicara dengan seseorang dengan bahasa buton yang agak kurang di pahami mappajo. Orang itu mengangguk dan mempersilahkan mereka berdua menuju ke salah satu kapal. Malik menarik tali kekang kuda dan menuntun mappajo mendekati kapal. Mappajo tampak bingung, apa yang kau lakukan tadi. Malik hanya tersenyum dan berkata, orang tadi salah seorang pemberontak. Bisiknya hamper dengan nada bangga. Seta merta mappajo memeluk malik dengan erat, air matanya menetes. Terima kasih malik, terima kasih atas segala pertolonganmu selama ini. Mappajo  memeluknya lama sekali sampai akhirnya terompet tanda berangkat di tiup, mappajo pun melepaskan pelukannya. Daeng, baik baik di jalan, jalan lupa kasih kabar kalau sudah sampai. Mappajo mengangguk jaga dirimu juga ya, malik. Malik tersenyum, pastinya daeng. Ia lalu segera naik ke kapal. Terompet berbunyi lagi ketika mappajo duduk di dalam dek dengan bekal hasil penjualan perahu dan ikannya, itu pertanda kapal telah mulai menjauhi dermaga.
Berhari hari mappajo berada di dalam kapal, sesekali berkeliling membantu para awak. Bekalnya sekarang sudah menipis. Tinggal menunggu pembagian makanan bergilir yang dilakukan nakhoda dua hari sekali. Selama hari hari itu mappajo mulai menerka nerka berapa lama lagi ia akan sampai dan terus berdoa agar perjalanannya lancar dan selamat sampai tujuan. Mappajo berpikir bahwa kesialannya selama ini disebabkan oleh tamak akan harta dan sombong terhadap apa dan siapa yang berada di bawahnya, selama ini mappajo lupa akan tuhan. Lupa akan kebesaran ilahi yang menentukan qodho dan qodar seseorang. Sampai2 ia sempat berputus asa dari rahmat allah. Padahal allah begitu baik padanya, sehingga ia masih dapat merasakan hidup yang panjang dengan segala ujian yang semakin memperkokoh imannya, coba kalau saja ia meninggal di saat usianya masih muda dan masih hidup dalam kefoya foyaan yang menipu, ia pati akan merugi, azab tuhan pasti sangat pedih untuknya. Mappajo beristigfar sebanyak ia mampu, mencoba mengusir pikiran masa lalu yang buruk itu. Sementara mappajo melamun, tiba tiba kapal mulai oleng ke kiri dan ke kanan terkana hempasan ombak. Mappajo kehilangan keseimbangan dan terntuk di dinding dek. Hujan mulai deras mengguyur bumi. Badai besar menghempaskan kapal seolah ingin segera menenggelamkannya. Sementara para awak kapal mencoba mengendalikan kapal, mappajo bersama penumpang lain terus bertahan di dek. Hampir semua penumpang menjerit ketika kapal kembali bergoncang, kini air telah meloncat masuk ke atas geladak. Laut terus bergejolak memuntahkan gelombang2 raksasa yang mengerikan. Mappajo berusaha menahan tangis, tangis rindu akan kampung halamannya,tangis keputus asaan. kini usaha terakhirnya untuk melihat kampung halamannya diambang kegagalan, kapal ini pun sebentar lagi akan tenggelam, tinggal menunggu menit, mereka semua akan mati. Semua sudar berakhir, lirih mappajo berderai air mata. Tiba2 kapal diterjang gelombang maha dahsyat yang meretakkan seluruh dinding kapal. Teriakan para awak seakan tertelan gemuruh yang begitu dahsyat, lalu dalam sekajap tubuh mappajo yang ringkih terseret air menuju ke lautan ganas bersama para awak dan penumpang lainnya. Kapal menyedihkan itu pecah dihantam badai menyisakan suara2 sumbang pengharapan dari para penumpangnya. Tubuh mappajo terombang ambing di lautan selama beberapa waktu, ajaibnya ia tidak mati. Tubuhnya pun terdampar di sebuah pantai
Mappajo mencoba membuka matanya, mengusir pening yang sangat dari kepalanya. Ia sudah mati, apakah ini surga, katanya dalam hati, ah tidak, tempat ini hangat. Ini mungkin neraka, surga tidak mungkin seperti ini. mappajo membuka matanya lebih jelas, seorang anak muda menatapnya dengan cemas. Nah, itu mungkin malaikat penjaga, apa mungkin malaikat berbentuk seperti manusia. Ahh ina, dia sudar sadar ina. Pemuda itu berlari kebelakang rumah panggung khas bugis itu , ia memanggil ibunya. Ahh rupanya malaikat punya ibu juga, mungkin mereka akan menyiksaku sekarang. Mappajo memejamkan mata, bersiap menerima hukuman. Tiba2 ia mendengar suara dari luar rumah. Daeng ada berita, suara seorang pemuda terdengar cukup jelas. Kabar apa, jawab seorang lelaki setengah baya. Beberapa hari yang lalu kapal dagang kesultanan buton pecah dan tenggelam di perairan kita, memang hari itu cuaca sangat buruk. Mappajo tersentak, ia tidak memperhatikan percakapan itu lagi, ia mulai berpikir, mungkinkah ia  masih hidup. Kek, ini air minumlah. Anak muda itu kembali bersama ibunya. Mappajo hampir tidak percaya dengan keadaannya sekarang. Aku, masih hidup. Lirihnya. Minumlah dulu kek, anak muda itu menyodorkan segelas air. Iya daeng, kata ibunya. Kami menemukan daeng tak sadarkan diri di pantai, kami tahu daeng salah satu penumpang kapal dagang yang tenggelam itu. Mappajo mencoba menggerakkan tubuhnya, aku dimana. Tenang saja daeng, daeng berada di kerajaan gowa, makkasar. Mappajo terdiam, bibirnya bergetar menahan haru, ucapan syukur tak henti keluar dari mulutnya. Ternyata tuhan masih menyayanginya.
THE END

Comments

Popular Posts